I Miss Blogging


This is my first post from my Blackberry smartphone. And this is also my first post after approximately two months… And I’ve been missing my blog! Not much for now, just a small writing in the middle of my boring office hours, and I am waiting for something good here, so I’ll let you know in my next post!

Regards,
Xander™

Advertisements

Amazing July With Vox Angelorum Part 4


Akhirnya, part 4 dimulai hari ini… Kalo belom tau kenapa tiba-tiba part 4, bisa baca dulu part 1-3 ya! By the way, gue ngetik part 4 ini sambil ditemenin lagu: “Tanah airku tidak kulupakannn… kan terkenang selama hidupkuuu…“ *maklum suasana 17-an*

Jadi kenangan gue sekarang kembali ke tanggal 20 Juli, hari Sabtu waktu itu, yang adalah hari di mana kita, paduan suara Vox Angelorum bakalan berlomba. Yep, this is the day, yang udah ditunggu-tunggu, yang adalah tujuan utama latihan dan cari dana ngangkutin t-shirt selama beberapa waktu dilakukan, yang adalah harapan dari seluruh anggota, alumni, teman-teman, saudara, keluarga, kenalan, dan bahkan yang gak kenal juga mendukung… *ngarep*

Pagi-pagi alarm gue yang paling pertama bunyi, dan menurut dua orang roomate gue alarm gue gak kedengaran, lain kali gue harusnya biarin dulu sampe suaranya ga berenti-berenti deh, hahahaha… jadilah pagi itu gue mandi pertama. Setelah mandi, gue turun untuk breakfast sementara kedua roomate gue juga giliran mandi. Katanya, selama temen gue itu mandi, di kamar sebelah ada yang vocalizing, akhirnya dia pun ikutan vocalizing sambil mandi, namun dengan nada 1 oktaf lebih rendah, maklum dia bass… LOL…. *bagi yang merasa kamarnya sebelah kamar kita, sori ya ada gangguan-gangguan echo dari kamar sebelah*

Saat breakfast, gue ketemu dan satu meja lagi sama Abe, itu lho yang jarang mengeluarkan ekspresi wajah, hehehehe… peace be! Kita memang diminta untuk banyak-banyak ngomong pagi itu, cerewet lah ceritanya, bukan supaya ribut, tapi sebagai cara pemanasan supaya suaranya gak kayak orang bangun tidur, nah waktu itu sempat bilang ke Abe yang keliatannya diem-diem aja, “Ayo be, kan harus cerewet, cerewet donk!” Abe pun menjawab, “Iya iya…” dan kembali terdiam… errr… ahahahahaha… Tapi jujur aja, gue pagi itu cukup deg-degan juga, soalnya buat gue yang baru ikutan choir, ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, bahkan buat temen-temen yang udah lebih lama dari gue pun, ada yang lomba ini adalah kesempatan lomba pertamanya, gak heran ada yang bilang kalo gue itu beruntung…

Setelah breakfast, kita ada satu jam kesempatan buat nyoba panggung tempat kita tampil nanti. Kita latihan di sana, coba formasi, yah gitu deh pokoknya, kalo buat gue pribadi, mencoba membayangkan nanti tampil di sana, di ruang itu, dengan tiga orang juri di depan gue, hooo… menegangkan! Kira-kira jam 9 udah disuruh finish latihannya sama panitia, soalnya ruangannya udah mau disiapin buat lomba. Kita ikut dua category, chamber choir dan mixed choir. Yang ga tau apa itu mahluk chamber choir dan mixed choir, gue mau ngutip apa kata Om Wikipedia. A chamber choir or group of chamber singers is the choral equivalent of a chamber ensemble, using voices instead of instruments. This prestigious choir will usually consist of 20-40 elite and dedicated singers. Kalo mixed choir ya choir pada umumnya, buat kita, semua orang nyanyi, kecuali conductor dan pianist tentunya.

Balik ke kamar, ganti baju lomba dan siap-siap, masih deg-degan juga, oh God, gue gak bakal bener nih kalo deg-degan seperti ini, penyakit gue kan kalo deg-degan pasti suara ga enak keluarnya, yah tapi yang tampil pertama kan chamber dulu, dan gue pikir nanti juga bakal tenang sendiri deh begitu gue giliran tampil. Untuk chamber, yang nyanyi memang 24 orang doank, dan gue emang gak ikutan di situ, pernah ikutan waktu latian dan sempat jadi cadangan juga sih, hehehehe… Oke, ganti baju dan siap-siap selesai, dan gue sempat ikutan pemanasan juga di salah satu kamar deket gue, dan akhirnya kita semua ngumpul di lobby. Wah ternyata kostum yang buat cewek bagus juga lho, sementara kostum gue sepertinya bikin gue tambah kurus, dan yang pasti leher gue jadi keliatan panjaaaang banget. Oke, gue gak suka kostumnya.

Setelah di lobby, kelompok mulai dipisah, yang chamber berlatih dulu di luar, sedangkan sisanya sesi foto-foto di lobby. Hasil foto-fotonya? Sepertinya gak usah diperlihatkan di sini. Hahahaha… Yap, setelahnya gue langsung ke tempat lomba, dan memang temen-temen yang ga ikutan chamber bakalan nonton dan kasih dukungan buat tim chamber choir kita. Eh, begitu sampe di sana, dibilang panitia bahwa sebentar lagi giliran Vox tampil, padahal menurut jadwal masih ada tim-tim yang tampil, tapi katanya ada yang dilewat, akhirnya gue lari ke bawah dan ke tempat mereka latian tadi, buat ngasih tau bahwa waktunya tinggal sebentar lagi. Untunglah ketika sampe di sana udah doa, berarti udah siap-siap ke tempat lomba. Tapi beberapa masih ada yang pengen ke toilet, dan gak jadi gara-gara gak keburu, hmmm firasatnya udah ga enak nih…

Begitu sampe, siap-siap, dan masuk. Kita yang ga ikutan udah duduk di deretan-deretan depan buat kasih dukungan. Percaya ato enggak, gue bener-bener deg-degan waktu itu, berdebar-debar di dada… kalo kata Afgan. Gila, gue yang nonton aja kayak gini, gimana yang tampil ya? Gue sangat berharap yang tampil ga segugup gue yang nonton ini. Lagu pertama, gue kurang puas dengernya, lagu kedua, masih ada yang kurang memuaskan, lagu ketiga yang paling sulit, bagus tapi juga kurang maksimal. Dan itu keliatan dari wajah temen-temen yang tampil yang juga gak puas sama penampilan mereka. Gue dan yang lain cuma bisa mendukung, dan gue percaya juga, mereka udah melakukan yang terbaik. Oke, lupain gak enaknya perasaan setelah chamber, sekarang kita konsentrasi buat kategori terakhir yang kita semua terlibat di dalamnya, mixed choir.

Kita berkumpul lagi di lorong luar, a little bit relaxed after the first category, dan pelatih kemudian bilang: “buat yang merasa tidak puas dengan penampilan tadi, ini saatnya untuk balas!” Dan gue entah kenapa jadi fired up! Latihan saat itu rasanya luar biasa, lagu pertama yang bertema tentang hari kemarahan, memang sepertinya mencerminkan judulnya. Sangat menggebrak. Pelatih kita puas banget sama latihan lagu itu, dan bukan hanya itu, tim-tim lain yang nongkrong atau berlatih deket-deket kita sampe bengong-bengong liat kita latihan. Mudah-mudahan bengongnya itu kagum ya, jangan sampe bengongnya gara-gara “duh gila jelek banget itu!”. Setelah latihan, kita berdoa lagi, kali ini semuanya ikut dan doa ini sangat-sangat menyentuh hati, entah buat yang lain, gue waktu itu bilang dalam hati, Albert (teman kita yang jatuh itu) we will do our best and give you the medal! Dan karena takut ada perubahan jadwal lagi seperti tim chamber tadi, kita memutuskan buat lebih awal ke tempat lomba.

Semalam sebelumnya masih ingat gue, kalo gugup kepalkan tangan kanan, kepercayaan diri itu ada di sana. Dan akhirnya giliran kita masuk ke ruangan lomba, urutan pertama, yang ternyata jadwalnya dipercepat juga. Tangan kanan terkepal, yep, naik ke panggung, tiga juri itu udah duduk di depan kita, sesuai dengan bayangan gue tadi, dan MC mengumumkan: “Ladies and gentlement…” *ziiiiiiiiiiiiiiiing….* ternyata di belakang gak ada siapa-siapa… gak ada yang nonton! Iya lah, secara kita semua di depan, dan juga mungkin yang lain gak ada yang mau nonton… setelah itu tiba-tiba salah satu jurinya bilang, “Haii…” dan langsung dijawab anak-anak dengan, “Haiii….” tapi dengan suara segambreng. Dan kita sempat ketawa waktu itu. Wuih, luar biasa, kegugupan itu tiba-tiba cair gitu aja, ilang gak berbekas. Dengan kepalan tangan kanan yang masih firm, kita mulai lagu pertama. Yep, kalo udah gak gugup, rasanya nyanyinya enak, puas rasanya menumpahkan emosi di lagu pertama, yang memang lagu tentang kemarahan itu. Lalu ke lagu kedua, lagu yang kita nyanyikan waktu jenguk Albert di rumah sakit sebelum operasi, lagu yang berkesan dan berarti tinggi buat gue pribadi, dan juga salah satu yang kalo gue gugup nyanyinya bakalan ga sampe di nada tingginya. Lagu ini pun berjalan baik. Akhirnya lagu ketiga, sebuah lagu yang mengenang Mother Teresa. Dulu gue pernah bilang, waktu masih latihan, sama temen gue Nino, bahwa lagu ini yang bakalan menentukan kita dapet medali emas atau enggak. Sebenernya sotoy aja sih, soalnya lagu ini menurut gue paling wah buat ditampilkan. Dan kali ini kita nyanyiin ini di saat terakhir, penentuan. Dan menurut gue, kita nyanyiin itu mulus banget. Salah satu yang bikin gue legaaaaa dan seneng adalah, ketiga juri itu memberi applause sangat panjang, sampai semua anggota Vox Angelorum turun dari panggung. Luar biasa rasanya. Sejak keluar ruangan itu, gue udah ga peduli gue bakal dapet medali atau enggak, we had fun back there!

Selesai sudah, kita tinggal menunggu hasilnya, waktu itu gue rasa gue udah kasih yang terbaik, dan gue percaya temen-temen lain juga sama. Dan pelatih juga bilang ke kita sesampainya kita di luar, “it couldn’t be better than this”, dan waktu doa itu udah ada beberapa yang terharu. Setelah itu lanjut dengan sesi foto-foto bersama, kemudian acara nyasar-nyasar nyari rumah makan Pasta-Pasta di mana kita bakalan makan siang. Setelah sekian lama berjalan akhirnya ketemu juga itu Pasta-Pasta. Lucunya, manager restonya mirip sama ketua Vox sebelumnya… sempat gue foto sih, tapi gak berani kasi liat orangnya (mudah-mudahan dia gak baca). Ngobrol-ngobrol sambil makan, ketawa-ketiwi, foto-foto, bahkan beberapa sampe udah sempat foto-foto dengan background pantai yang emang gak jauh dari situ, sampai akhirnya kita dipanggil dan memutuskan balik ke tempat lomba, karena sepertinya announcement bakal dimulai…

Begitu sampai ke tempat lomba, gue sempat nanya sama panitianya, ternyata announcementnya jam 3 sore, dan waktu itu sekitar jam setengah 3. Jadi akhirnya kita masuk dulu ke ruangan, dan ada sesi foto-foto lagi, kali ini dengan juri bule, dan juga panitia bule yang katanya cakep, ehmmm… kalo yg terakhir ini gue gak ikutan ya, yang ikutan cewek-cewek doank… dan kita cukup membuat kehebohan di belakang sana, karena yang berebut foto sama bule-bule itu banyak, dan kebanyakan emang dari kita sendiri (cewek-ceweknya lho)… hahahahaha… ups, ada satu juri yang kayaknya paling gak laku, satu-satunya maestro dari Thailand, mungkin gara-gara bukan bule kali ya?

Jam 3 sore! Akhirnya pengumumannya dimulai. Wuih, biarpun gue bilang waktu selesai lomba, gue gak peduli dapet emas atau enggak, ternyata itu perasaan sesaat doank, sekarang gue deg-degan abis. Huahahaha… nungguin emang gak enak, enakan tampil sendiri ternyata. Yap, kategori-kategori lain udah mulai diumumin, udah banyak jeritan histeris kebahagiaan dari beberapa peraih gold, dan tepuk tangan biasa-biasa dari yang silver, dan tepuk tangan seadanya dari yang bronze… dan yang gak dapet? Gak tau deh… Kemudian, tibalah kategori chamber choir. Yap, kita dapet silver. Tepuk tangan biasa-biasa. Sebentar doank. Gak terlalu gimanaaaa gitu. Dan setelah kategori-kategori lain yang juga selalu diiringi jerit-jerit, akhirnya ke kategori mixed choir. Deg-degan luar biasa. Gue duduk di deretan bangku paling belakang. Finger crossed. Dan pengumumannya adalah lawan kita Sola Fide dapet gold. Artinya, kita dapet gold? Masih belum percaya, ditambah lagi dengan kata-kata:  “and another gold, with a perfect 100 points… Vox Angelorum Jakarta!” and it’s like: “YEEEEAAAAAHHHHHHHHHHHHHH!!!! WE DID IT!!! WE DID IT!!! PERFECT SCORE??? HIT ME, I CAN’T BELIEVE IT!!! THANK YOU GOD!!!!” dan gue berteriak-teriak gila. Beberapa dari kita langsung bercucuran air mata, penuh suka cita, jingkrak-jingkrak ga jelas, bendera Vox Angelorum dikibar-kibarin berbarengan sama bendera Merah Putih Indonesia. Rasanya pengalaman ini tak tergantikan. Luar biasa!!!!

Dan kemudian diumumkan 3 choir terpilih yang ikutan Concert of Winners segera saat itu juga, dan Vox Angelorum termasuk di dalamnya! Yeah! Artinya kita harus nyanyi lagi, dengan suara yang udah lumayan abis gara-gara teriak-teriak dan pada nangis, juga dengan emosi yang udah meluap meleber kemana-mana, kita tampil lagi bawain dua lagu. Begitu kita turun dari panggung, applause yang kita dapat tetap luar biasa, kali ini dari seluruh peserta yang menonton memenuhi ruangan itu. Gak bisa berhenti bersyukur. Tuhan udah kasih semuanya indah pada waktunya. Betul-betul gak bisa berhenti memanjatkan syukur sama Tuhan dan Bunda Maria, luar biasa. Waktu pengumuman itu, gue terlalu sibuk teriak-teriak dan loncat-loncat, gak sempat nangis sama sekali, hahahaha… nangis aja sampe disempat-sempatin ya? Tapi waktu kita berdoa di bawah, dan pelatih udah gak sanggup mimpin doa takut ngucur air matanya katanya, maka yang pimpin doa adalah Abe, yang dianggap gak bakal kasi ekspresi hahahaha… tapi mau gimanapun, pertahanan gue hancur saat doa, gue nangis sodara-sodara…

Silver medal and a gold medal with a perfect score, benar-benar kado ulang taun sempurna buat gue. Gak pernah gue bayangin sebelumnya, ikut lomba di taun pertama bareng Vox, dengan pengalaman luar biasa ini. Perjalanan ini memang penuh mujizat dari awal, dan gue bersyukur, kita bersyukur, teranyata apa yang kita lakukan dan usahakan selama ini, sejalan dengan yang Tuhan mau. Semoga tetap demikian buat tugas-tugas dan pelayanan kita ke depannya. Amin! Dan sebelum lupa, gue masih inget, ketika kita masih jejingkrakan di dalam setelah diumumkan itu, kita sempat teriak-teriak, “Albert Albert Albert!!!” sampe mungkin choir yang laen bingung, Albert? Hehehehe… yes we did it bro! Segala rasa pesimis dan keraguan, dan juga kesulitan yang kita alami, ternyata Tuhan membalasnya dengan menyempurnakan hari itu, menyempurnakan segala harapan dan usaha yang udah kita buat.

And this is the end of part 4. Sisanya masih ada sih, tapi kayaknya klimaksnya berhenti di sini… sisanya part 5 nanti kalo ada, gue mungkin bakalan cerita tentang kejadian-kejadian lucu yang terjadi setelahnya, kalo niat juga nulisnya ya. Kalo gue nginget-nginget lagi kejadian ini, sampai sekarang pun gue masih suka terharu, post euphoria sih katanya, mudah-mudahan emang nambah semangat buat choir kita ke depannya! And for the closing, this is the medals, thank you Lord!

 PS: This photos are courtesy of Alfonsus Guritno (again, thank you for your amazing photos!) and from the website of http://www.festamusicale.com

Regards,
Xander™

Amazing July With Vox Angelorum Part 3


Touch down at Suvarnabhumi airport – Bangkok. Ups, kecepetan, kita rewind dulu ke belakang sedikit, kira-kira beberapa jam sebelum landing. Jadi inilah part 3 dari curcol (nyolong curhat kok panjang bener) dan ocehan gue, kelanjutan dari Amazing July With Vox Angelorum part 2, yang juga kelanjutan dari Amazing July With Vox Angelorum part 1… errr… tambah panjang nih… oke, gue proceed ke part 3 langsung deh…

Tanggal 20 Juli, begitu gue bangun, kloter satu sepertinya sudah mencapai Changi Airport – Singapore. Jadi ceritanya kita dibagi menjadi 4 kloter, kloter 1 berangkatnya jam 6 pagi tapi transit dulu di Changi, gak tanggung-tanggung, dari jam 8 sampe jam 2 siang, baru lanjut ke Bangkok. Kloter 2 dari jam 11 siang berangkat, transit dulu di Kuala Lumpur, trus sekitar sejam kemudian baru lanjut ke Bangkok. Nah gue di kloter 3, yang berangkatnya barengan kloter 4, pesawatnya langsung ke Bangkok, dan baru jam setengah 5 sore take off… jadilah gue bangun dengan santai, dapet kabar kloter 1 lagi maen monopoli di Changi, dan kemudian masih tidur-tiduran sampe jam 9…

Singkatnya, jam 12-an gue bareng dua temen gue yang lain udah di taxi menuju Soeta. Begitu liat koper temen-temen yang laen, yang besarnya dua kali lipat koper yang gue bawa, gue mulai mikir, gue bawa baju cukup ato gak ya? Tapi akhirnya memutuskan buat pede aja dan setelah ketemu temen-temen lain di airport juga ternyata ada yang lebih sedikit dari gue barang bawaannya, fiuhh… To be honest, this is my first flight abroad, seperti yang gue sebutin di part 2 awal. So it’s new for me to be in an imigration queue, to fill the departure and arrival card, etc. Luckily, gue dapet seat ga sendirian, ada satu orang temen gue juga yang duduk di sebelah gue. Namanya Abe. Dia dijuluki manusia tanpa expresi, karena ya emang mukanya lempeng-lempeng aja, hehehehe… Nah ternyata Abe baru kali itu naik pesawat, jadi gue masih mending lah, udah beberapa kali, sampe Ternate sendirian pula dulu, yang kalo gue wisata pun mana mungkin gue sendirian ke Ternate…

Di sebelah Abe, duduklah seorang Jepang yang berpakaian rapi. Jelas dia pergi untuk urusan bisnis, diliat dari pakaiannya, kecuali kalo dia salah kostum itu gue gak tau deh… Begitu duduk, dia langsung mengeluarkan sebuah buku bacaan kecil, tulisannya tentu tulisan Jepang, dan langsung anteng baca. Wah gue pikir ini orang bener-bener gak mau kehilangan waktu banget ya, rajin gitu, hehehe… Ehh ternyata alam berkata lain… begitu pesawat take off, buku dia simpan, dan dia langsung tidur. Parahnya, dia gak bangun sampai pesawat mendarat di Bangkok, eh ada bangun sekali deh kata Abe, bentar doank langsung tidur yang nunduk-nunduk gitu kepalanya sampe Bangkok. Sementara gue mulai mengeluarkan Madre gue dari tas kecil yang setia gue bawa, dan mulai membaca. Thank you for the book friend, biarpun emang gue yang pesen, tapi temen gue ternyata gak mau dibayar, jadi hadiah ultah ceritanya, dan buku itu emang bagus 🙂

Madre by Dee

Abe yang baru naik pesawat menghabiskan waktunya buat tidur, sementara gue, yang mulai ngantuk di pertengahan buku, juga memutuskan buat tidur, karena mau beli makanan di pesawat juga mahal, jadilah gue berharap begitu sampe bangkok masih bisa makan dulu, kalo enggak, bisa gak tidur nih 😛

Sampailah kita di bangkok, yang diawali dengan jepret sana jepret sini sampai kita ke luar airport (baca: foto-foto). Oh ya, bus yang menjemput kita di airport ternyata cukup unik, karena busnya pun bus wisata, ada dua tingkat, dan yang bikin unik satu lagi adalah busnya bergambar Hello Kitty. Oh God, begitu gue tweet bahwa busnya Hello Kitty, temen gue langsung balas: “gawat di bangkok baru 1hari udah ganti selera jadi hello kitty ?? *shock”.  Okee… bukan gue yang pilih bus kok, tapi jujur, busnya bagus! Ini foto dari kloter 2 bersama bus tercinta:

Hello Kitty Bus

Dan sampailah di hotel All Season – Hua Mark, yang udah ditunggu sama beberapa temen kloter awal yang udah dari sore sampe di hotel. Kita langsung dibagi kamar dan langsung menuju kamar buat istirahat. Untungnya, malam itu masih dikasih makan Cheese Burger McD yang rasanya aneh tapi cukup buat mengganjal perut (gue makan dua!). That’s Bangkok day 1.

Bangkok day 2 diawali dengan bangun pagi diiringi dengkuran keras dari temen satu kamar gue, Ko Levi. Hahahaha… Untung gue udah terbiasa sama suara dengkuran, jadi masih bisa tidur kok 🙂 Pagi itu, setelah breakfast di hotel, gue bareng dua orang lagi, Nino n Franky, jalan keluar dengan tujuan nyari tempat latihan. Tujuannya adalah sebuah High School yang namanya bahkan gue aja udah lupa apa. Perjalanan mencari sekolahan ternyata tidak sedekat dan semudah yang gue kira. Sekitar 20 menit termasuk nanya-nanya satpam pake bahasa tarzan dan bantuan Franky dengan mandarin buat nanya ke seorang penjual makanan di pinggir gang, akhirnya sampai ke sekolah yang dimaksud.

Sampai di sekolah, kita masuk ke ruangan administrasi, yang sepertinya belakangnya adalah kantor guru ataupun tata usaha (gue sotoy doank sih). Begitu kita bertiga masuk, dari jendela keliatan karyawan sana, entah guru ataupun pegawai TU, pada sibuk ngelongok keluar, mungkin mikir ngapain tuh orang tinggi rambutnya kriting kurus-kurus item nyamperin sekolahan gue… ahahahaha… akhirnya gak lama kemudian muncul seorang guru bahasa Inggris yang bisa ngobrol sama kita, kita sampein maksudnya mau sewa hall or something like that buat tempat kita rehearsal. Karena directornya lagi pergi ke Indonesia (lhoh, kebalik!!) maka kita dibawa ke vice directornya, sembari sebelumnya mampir dulu ke hall yang mereka punya, yang kira-kira kalo jadi bakalan disewain ke kita. Ternyata directornya minta 3000 Baht buat sewa hari itu. Hmm… kalo dari harga sih mungkin masih bisa kita afford, tapi pertimbangannya adalah jaraknya terlalu jauh dari hotel, dan kita ada seorang bumil (ibu hamil) sehingga kita memutuskan untuk tidak menggunakan sekolah itu sebagai tempat latian…

Dan untungnya, ada sebuah GOR Badminton di dekat hotel, kira-kira 5 menit jalan kaki, yang terdiri dari 5 lapangan badminton. Akhirnya kita sewa semua lapangannya karena kalo sewa sebagian doank takutnya ganggu orang yang main dengan suara kita. That’s it, Vox Angelorum Choir berlatih hari pertama di lapangan badminton sodara-sodara!

latihan di lapangan badminton

Karena ternyata di Bangkok itu musim ujan, maka jalanan licin. Beberapa dari kita udah sempat terpeleset siang itu, termasuk gue, tapi untungnya nothing bad happened. Latihan berjalan dengan lancar, dan sore itu kita pergi bareng-bareng pake bus Hello Kitty lagi ke chapel dari Assumption University untuk Opening Ceremony dari serangkaian acara termasuk lomba yang kita ikuti. Gerejanya / chapelnya itu bagus banget! Nih fotonya:

Chapel of Assumption University Bangkok
Chapel of Assumption University Bangkok

Di sana, setiap choir peserta nampilin satu atau lebih lagu, dan ternyata bagus-bagus ya, pas giliran kita tampil, karena anggota kita sepertinya emang paling banyak, butuh waktu lebih buat naik panggung dan siap-siap, hehehehe… dan katanya sih, kita tampil malam itu cukup bagus, cuma satu lagu yang ditampilin yaitu O Nata Lux karya Morten Lauridsen, yang juga merupakan lagu yang kita nyanyiin buat lomba nanti. Nah di sinilah kejadian itu bermula. Setelah kita tampil, teman kita yang bernama Albert ijin buat ke toilet. Karena di luar ujan, dan jalan memang licin, dia terjatuh dan mengalami sakit sehingga sulit bergerak. Begitu teman kita yang lain keluar dan nemuin dia udah terjatuh, maka gak tau keputusan siapa, mereka bawa Albert ke rumah sakit terdekat. Teman-teman yang masih di dalam chapel baru dikasi tau kejadian itu saat akan pulang, dan jujur, berita itu bagaikan petir di siang bolong buat kita. Rumah sakit, dari mendengar kata-kata itu aja auranya udah gak enak, maka kita pulang ke hotel dengan lesu, gak bersemangat, sampai di hotel kita ngumpul dan berdoa Novena buat keberhasilan choir kita sendiri dan terutama buat kesembuhan dari Albert. Kejadian ini melengkapi pesimistis gue dari proses persiapan, jadi rasanya malam itu bener-bener gak karuan perasaan gue. Dan gue yakin temen-temen yang lain pun demikian. Malam itu juga, gue dapat kabar bahwa kira-kira Albert harus pindah rumah sakit karena harus nyari RS yang Orthopedsnya bagus. Pagi harinya, Albert dipindah ke rumah sakit yang katanya lebih baik dari yang semalam.

Untuk yang lain, Bangkok day 3 rasanya kurang semangat, semua masih khawatir dan nanya-nanya keadaan teman kita satu itu. Sesi latihan di lapangan badminton siang itu biarpun cukup lancar juga ternyata ditambah berita buruk bahwa Albert sepertinya harus dioperasi hari itu juga untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk lagi, karena ternyata tulangnya mengalami keretakan. Jadi, rencana hari itu yang tadinya kita mengikuti Choir Marathon di Pattaya, diganti menjadi acara jenguk Albert dulu di RS sebelum ke Pattaya, dan latihan malam di Pattaya untuk menyesuaikan diri buat besok lomba.

Kejadian konyol kembali terjadi dalam perjalanan siang itu dari hotel, yang seharusnya mampir dulu ke RS tempat Albert dirawat baru ke Pattaya, tapi ternyata karena sopir bus-nya juga gak ngerti bahasa Inggris dan maen yes yes aja ketika diminta ke RS dulu, kita udah setengah jalan ke Pattaya sampai sadar bahwa kita harus ke RS dulu. Putar balik! Ngabisin sejam lebih di jalan cuma buat kembali ke Bangkok! Ko Levi, roomate gue selama di Bangkok, ternyata tidur sejak kita berangkat, begitu kita sampe Bangkok lagi barulah dia kebangun, dan langsung nyeletuk: “Ini pantainya mana yah? Kok mirip di Bangkok?” Huahahaha… ternyata Ko Levi gak tau bahwa kita kembali lagi ke Bangkok!

Sampailah juga kita ke RS-nya. Biarpun kamarnya katanya adalah yang paling murah, tapi ternyata cukup bagus dan cukup gede buat nampung kita semua, ber-50 di dalam satu kamar, buat jenguk Albert dan berdoa di sana buat kesuksesan operasinya. Mujizat pertama yang gue sadari adalah, kita sampai di sana tepat saat Albert mau disiapkan buat operasi, jadi masih sempat buat saling bersalaman dan kasih semangat. Ada juga sesi bercucuran air mata, saat kita semua nyanyiin O Nata Lux satu bait dan gak ada yang bertahan, tumbang semua, hehehehe… From that very moment, Albert seakan menjadi energi dan semangat tambahan buat setiap orang! Including me!

Albert right before operation

Akhirnya berangkatlah kita ke Pattaya. Kali ini tanpa khawatir salah lagi, jadi beberapa ada yang udah bersiap tidur. Ternyata acara tidur ditunda, karena ada doa Rosario bersama untuk mengiringi operasi Albert. Karena udah banyak yang ngantuk, ada yang doa Rosario gak pake konsonan, ada yang saking khusuknya berdoa sampe gak kedengeran apa-apa, dan yang special, di peristiwa ke-5, terdengar suara “Grrrrooooook” keras dari bagian belakang bus. Gue jujur aja, langsung nahan ketawa.

Mujizat kedua yang gue tau, terjadi selama perjalanan ini, kalo gue gak salah sih. Jadi begini, untuk biaya operasi dan perawatan Albert, kita semua masih belum punya solusinya. Lalu berita ini diberitahukan juga ke alumni-alumni dan kenalan-kenalan Vox Angelorum yang ada di Jakarta. Tiba-tiba ada telepon yang mengabarkan bahwa ada yang kenal dengan yang punya RS tempat Albert dirawat (kok bisa ya? ), dan kalo gak salah sih, we don’t have to worry about the payment, it’s been taken care of.

Karena waktu sudah tidak memungkinkan, maka sewaktu di RS kita membeli makanan buat semua orang, yang kita santap di bus. Jadi begitu kita sampai ke Pattaya, langsung pembagian room, dan dilanjutkan dengan latihan! Malam itu juga, kita dapat kabar bahwa operasi Albert berlangsung lancar dan sukses, puji Tuhan 🙂

Latihan malam itu juga berjalan dengan lancar, diakhiri dengan doa, dan kepalan tangan kanan sebagai penambah percaya diri. Siap untuk lomba esok harinya, yes we can!!!

Wuih ternyata panjang juga part ketiga ini, dilanjutin di part 4 deh, mudah-mudahan cukup biarpun gue yakin gak cukup sehingga harus ada part 5. Good night and see you in my next part of the story 😛

PS: The photos or images in this post are courtesy of me myself, and two of my friends: Alfonsus Guritno and Maria Vina Elmaresa. Thank you for capturing those amazing moments guys!

Regards,
Xander™

Amazing July With Vox Angelorum Part 2


This is the second part of my amazing July with Vox Angelorum. Jadi lomba yang rencananya bakal kita ikutin adalah Grand Prix Pattaya 2011. Dari namanya pun jelas lombanya ada di Pattaya, Thailand. Negeri yang sama sekali belum pernah gue injak, wong satu-satunya yang pernah gue injak adalah tanah airku Indonesia kok… paspor aja masih kosong 😛 Naaah, dari rencana untuk ikut lomba dari tahun lalu, di awal tahun baru kita mulai berlatih lagu-lagu yang tingkat kesulitannya katanya untuk lomba, gue gak tau sih bedanya di mana, menurut gue semua lagu baru itu sulit! Hahahaha… tapi untuk lagu-lagu ini memang lebih njelimet lagi, gak kebayang deh gimana nyanyinya. Dari lagu-lagu yang sedikit demi sedikit dilatih dan ditambah, maka kita nentuin target bulan apa kita harus udah siap, dan juga ada rencana buat pre-competition concert.

Itu dari segi teknis, kalo segi non-teknis, udah dibagi kelompok-kelompok buat cari dana, dengan rencana masing-masing, jualan ini-itu, event ini-itu, yang pada kenyataannya hampir gak ada yang berjalan! Luar biasa! Hahahaha… Setelah Paskah lewat, yang jadi salah satu event besar yang harus kita siapkan juga, kita udah bener-bener berkonsentrasi sama persiapan untuk ikutan lomba, meskipun gak sedikit rasa pesimisme menyeruak di tengah-tengah persiapan ini. Konon katanya yang senior-senior banyak yang gak ikut, dan panitia yang disiapkan buat event ini pun mayoritas ‘junior’, dan juga gue mendengar ada nada-nada pesimis bahkan dari dalam team kita sendiri…

Oh ya, selama persiapan menuju lomba ini, selama latihan ada satu metode unik yang diterapkan supaya kita latihannya tambah semangat. Metode ini disebut metode panda biru atau beruang biru. Gue sampe sekarang masih bingung itu mahluk apa, panda atau beruang atau bahkan kucing, gak ada yang jelas. Fotonya seperti ini:

Jadi, setiap kali latihan, suara yang paling menghambat latihan saat itu bakal harus ‘nyumbang’ gopek rupiah ke dalam celengan ini, dan harus coin, baik yang datang latihan maupun yang gak, tapi gak tau deh apa semua nyumbang atau enggak-nya, yang pasti si celengan biru ini bikin latihan kita berwarna, biarpun memang cuma gopek tapi bisa bikin lebih semangat lagi daripada biasanya. Kalo menurut kalkulasi gue sih, sampe akhir yang paling sering itu Alto… Hmmm…

Karena gue tergabungnya di suara tenor, maka setelah suara lain pun menentukan ada latihan tambahan masing-masing per suara supaya nyanyinya lebih bagus dan kompak lagi, maka tenor pun ceritanya gak mau ketinggalan. Untungnya ada satu senior di tenor yang mau dan bersedia membimbing kita, melatih kita, sekaligus nyediain rumahnya sebagai tempat latihan, jadi biarpun yang dateng gak pernah full team, tapi setidaknya ada beberapa yang secara rutin latihan, dan setidaknya ada kesempatan buat mencoba nyanyi dengan bener, biarpun pada kenyataannya pas latihan gabungan selalu paling lemah, dan itu sempat jadi saat-saat paling mengikis kepercayaan diri, mungkin khususnya buat gue sendiri…

Ada moment-moment tertentu yang sekarang udah jadi kenangan, yakni makan terlebih dulu ataupun makan setelah latian di Kedoya Food Park yang kebetulan deket banget sama rumahnya bapak pelatih tenor kita itu. Pernah waktu itu makan bertiga, ngobrol sampe malem, diakhiri dengan perut gue yang mules-mules, karena waktu itu pesen ketoprak dua, yang punya temen gue pedes, punya gue gak pedes, namun seperti yang bisa diduga: ketuker. Juga pernah ada kejadian telat kasi tau temen-temen bahwa latihan hari itu dibatalin dan diganti besoknya, padahal gue dan beberapa orang lain udah keburu dateng, akhirnya nongkrong dan makan lagi di Kedoya Food Park. Kenapa jadi kenangan? Karena Kedoya Food Park sekarang sudah tidak ada lagi… udah digusur sodara-sodara…

Rencana berangkat untuk lomba itu tanggal 20 Juli. Dari awal sebenernya udah deg-deg-an, soalnya di bulan Juli itu di kantor gue ada event besar yaitu acara Grand Opening dari kantor gue sendiri yang secara resmi meluncurkan site e-commerce-nya. Tanggalnya belum pasti waktu gue minta ijin untuk pergi ke Thailand, jadi memang bikin agak ketar-ketir juga sih, dan ternyata, setelah tanggal Grand Openingnya resmi muncul, gue emang masih ada di Bangkok… ahahahaha… tapi yang penting kerjaan gue buat event itu udah gue kelarin terlebih dahulu sebelum berangkat, sehingga emang gak bawa beban kerjaan ke sana, hurray!

Menjelang Juli, deg-deg-an semakin berasa, latihan semakin sering, dan burung berkicau semakin sering… lho?!?! Apa hubungannya sama burung? Ehm, ga ada sih, itu intermezzo aja supaya ga ngantuk baca tulisan gue… Nah, lanjut, untuk cari dana, ada salah seorang dari kita yang bantu jualin t-shirt, dan saat itu gue pun bantuin jual ke temen-temen kantor maupun temen-temen lain. Suatu hari, pesanan gue udah mencapai kira-kira 25 t-shirt, yang membuat gue cukup terkesima, kok gampang ya jualin baju? Dengan pedenya karena jumlahnya cukup banyak, gue order. Ternyata, ada salah satu di antara kita yang jauh lebih sukses dari gue, total pesanan 50an t-shirt. Oh God, di atas langit masih ada langit, ga jadi bangga deh dengan 25 t-shirtnya… tapi juga bersyukur karena itu berarti pemasukan buat nambahin dana lebih banyak lagi… Vox Angelorum juga sempat mengisi misa di salah satu stasi dari gereja MBK juga, yang juga cukup menambah perbendaharaan dana biarpun teteeeep aja masih kurang… *sigh, cari duit susah emang*

Oh ya, selama persiapan juga, kita kedatangan ‘trainer’ – ‘trainer’ yang kualitasnya luar biasa, menurut gue ya, yang baru sama dunia ginian. Contohnya Bernadetta Astari yang sempat melatih para soprano kita yang dalam 2-3 jam suaranya jadi menggelegar, dan juga sesi latihan bersama Akis, yang gue harapkan menggenjot tenor habis-habisan supaya kita bisa lebih bagus, tapi apa daya dia lebih tertarik ikutan menambah kekuatan sopran…  biarpun juga ga sedikit ngasih koreksi ke yang lain…

Sesi latihan seperti itu sangat amat membantu dan menambah pengalaman buat gue secara pribadi, belajar dari orang-orang yang emang udah teruji memang asik, apalagi dengan cara visualisasi masing-masing yang memang cukup membantu dalam bernyanyi. Dan untuk menambah rasa ke-PEDE-an kita semua, maka kita mengadakan pre-competition mini concert (dibilang mini karena emang lagunya pun cuma 6 yang terdiri dari lagu lomba saja) di gereja St. Laurentius di Alam Sutera, Tangerang. Gerejanya bagus banget, padahal itu bukan paroki, masih stasi, dan merupakan suatu kegembiraan tersendiri bisa nyanyi di sana bareng temen-temen Vox… pre-competition concert saat itu berjalan cukup lancar, gue pribadi memang punya kesulitan sama yang namanya gugup waktu tampil, jadi waktu latihan oke, tapi waktu tampil jadi kurang maksimal, so, it’s me versus myself…

Vox Angelorum Pre-Competition Mini Concert

Setelah konser, berbagai persiapan lebih difokuskan ke yang memiliki skala prioritas tinggi, dan juga conductor kami mengingatkan berkali-kali untuk jaga kondisi, supaya pada saatnya nanti bisa fit semua, dan itu memacu gue untuk mempertahankan pantang gorengan dan mengurangi pedas, padahal gue suka banget sama yang namanya gorengan, gak tau ngaruh atau enggak sih ke suara, tapi yang pasti gue nurut aja deh…  Oh ya, pre-com concert itu dilangsungkan tanggal 10 Juli, dan besoknya adalah hari yang bersejarah buat gue, karena hari itu umur gue genap 25 tahun. Yang kata orang adalah umur krisis, biasa disebut quarter life crisis. Ga usah panjang lebar mengenai 25 tahun umur gue, udah ada di postingan sebelumnya, dan impian gue buat hadiah ulang tahun adalah medali emas di Pattaya…

Selain persiapan secara teknis dan non teknis, kita juga mempersiapkan diri dengan berdoa, baik yang rutin maupun pribadi, yang semakin menyadarkan gue sendiri, bahwa apapun usaha yang kita lakukan, kalau tidak sejalan dengan kehendak-Nya, tidak akan diberi kelancaran, jadi gue pribadi mohon, supaya apapun yang kita lakukan dan usahakan, semoga sesuai dengan kehendak-Nya, itu aja, gak lebih-gak kurang. Dan dukungan buat kita pun mengalir dari banyak orang, yang paling berasa tentu dari alumni-alumni Vox Angelorum sendiri, yang tidak bisa ikut maupun memang yang sudah ‘pensiun’. Waktu latihan terakhir di hari Minggu, mereka tampil membawakan lagu When You Believe dan If We Hold On Together, luar biasa, suara mereka yang katanya udah lama gak nyanyi, udah jelek, udah gak nyampe, menurut gue masih sangat amat layak buat ikut lomba, dan kedua lagu itu sangat menyentuh sehingga beberapa dari kita menitikkan air mata, semoga harapan mereka yang disampaikan lewat kedua lagu luar biasa itu tidak sia-sia!

Latihan checked, persiapan fisik dan mental checked, packing checked (biarpun gue masih bingung apa ada yang kurang atau enggak, tapi gue pake prinsip cuek, bawa baju pas-pasan aja), persiapan kostum juga checked (biarpun waktu fitting bagian tangan gue kependekan 6 cm dan harus dirombak), paspor checked, uang secukupnya checked, dan tibalah saatnya, 20 Juli, kita berangkat menuju negeri gajah putih dengan harapan dan semangat, dan yang pasti, dengan berkat Tuhan 🙂

Demikian part ke-2 dari ocehan dan sharing gue. Ditunggu ya part ke-3 dan seterusnya, semoga gak kelamaan… dan semoga masih menarik buat dibaca 😛

Regards,
Xander™

Amazing July With Vox Angelorum Part 1


Akhirnya ada “me time” with my pc buat cerita tentang Juli yang mengagumkan ini. Kalo gue mau rank dari Juli-Juli sebelumnya, gue rasa Juli taun ini yang paling luar biasa. Satu topik yang mau gue ceritain keseluruhannya berkisah tentang gue dengan kelompok paduan suara di mana gue tergabung di dalamnya, Vox Angelorum Choir. Kemungkinan cerita ini akan gue buat beberapa part supaya ga kepanjangan bacanya, so sit back, relax, and enjoy my story 🙂

Gue mulai dengan awal gue tau ada choir bernama Vox Angelorum. Saat itu taun 2004, begitu gue masuk kuliah di BiNus, diajakin ke gereja sama temen di MBK, jaraknya deket banget sama kampus, jadilah gue misa setiap minggu di MBK. Nah, karena gue orang baru di sana, biasanya cuma ikut misa dan kemudian pulang. Kegiatan itu berlangsung terus, tanpa pernah terlibat kegiatan apapun. Kira-kira 2 taun setelahnya, 2006, ada pengumuman minta doa waktu misa untuk Vox Angelorum Choir yang berkompetisi di Xiamen, China. Gue pikir, “hebat banget ini kompetisinya jauh gitu, jadi penasaran choirnya kayak gimana”. Dan kemudian ada pengumuman lagi mereka meraih Gold Medal di sana, tambah penasaranlah gue, yang belom pernah bener-bener ikutan yang namanya choir kecuali waktu jaman sekolah dan itu pun disuruh sama guru agama, ahahahaha…

Setelahnya, tepatnya kapan gue gak inget lagi, gue menyaksikan Vox Angelorum tugas misa di gereja, dan ternyata memang bagus! Sejak itu, gue selalu excited kalo yang tugas misa kebetulan Vox Angelorum, soalnya jadi menikmati misa karena lagu yang dibawain bagus-bagus dan suara mereka pun mantap. Dan sadar gak sadar, kalo misa besar seperti Natal dan Paskah, gue selalu berharap yg tugas Vox, dan kebetulan memang Vox biasanya dapat tugas misa yang malam, yang memang jamnya gue misa. Kalo mau dibilang gue nyari misa yang ada Vox-nya sebenernya bisa, tapi kebanyakan sih pas memang jam-nya 😛

Seiring waktu, gue sempat mikir, bisa gak yah gue gabung sama choir yang segini bagusnya, pengalaman nyanyi beneran ga ada sih, baca not balok apalagi, nyerah! Dan waktu itu konon harus bisa baca not balok buat audisi masuknya. Dan itu pun tinggalah sekelumit pemikiran semata. Gak pernah kepikiran untuk bisa join, apalagi liat yang nyanyi udah hebat-hebat seperti itu. “Cuma jadi penonton aja deh”, pikir gue waktu itu.

Sampailah taun 2010, di mana dari 2006 sampai 2010 gue tetep ga ikut kegiatan apa-apa di gereja, mengingat dulu sewaktu masih sekolah di Tasikmalaya, gue aktif di putra altar, juga mudika, orang-orang yang kenal gue jadi aneh kenapa sejak kuliah gue sama sekali berbeda, gak pernah aktif dalam kegiatan-kegiatan semacam itu. Yah gue juga ga ngerti sih, tapi yang pasti waktu itu ga ada niat ataupun keinginan buat aktif, hehehe…

Eh iya jadi curcol masa kecil, lanjut deh lanjut, jadi 2010 itu, ada temen kantor gue yang ternyata gue baru tau dia udah setaun-an tergabung di Vox Angelorum, dan setelah gue tau itu, jadilah gue orang paling aktif nanya-nanya sama dia tentang choirnya. Latihannya gimana, aturannya apa aja, dan ternyata temen gue itu cepat tanggap, dia tau kalo gue minat ikutan choirnya, walaupun gue gak ngomong gue mau ikutan, ya keliatan lah ya, wong nanya macem-macem gitu!

Akhirnya kira-kira bulan Mei-Juni 2010, gak ingat tepatnya kapan, gue dikasi selebaran audisi buat masuk ke Vox Angelorum. Saat itu pun gue masih bener-bener gak berpikir buat ikutan, cuma gue ambil aja selebarannya. Saat-saat terakhir pendaftaran, entah kenapa waktu gue lewat meja pendaftaran di depan gereja setelah misa, gue memutuskan buat daftar. “Yap, ga ada ruginya deh, nothing to lose”, pikir gue saat itu. Dan memang ga semulus itu. Waktu gue ditelpon bahwa hari Minggu bakalan ada audisi, gue masih tugas dinas di Palembang dan ga memungkinkan buat gue untuk ikutan audisi Minggu itu. Eh tapi ternyata ada audisi susulan! Jadi setelah gue kembali ke Jakarta, hari Kamis malam gue sempat-sempatin buat ke gereja sebentar ikutan audisi.

Audisinya gue gak tau seperti apa, dan gue juga udah lama gak liat not sama sekali, jadi boleh dibilang gue gak modal apa-apa. Audisinya di gerejanya ternyata, dan setiap orang yang daftar dikasih dua lembar kertas, yang pertama not balok, yang kedua not angka. Diminta buat belajar lagu itu, dan tanpa pikir panjang gue lewat lembaran pertama. Huahahahaha… not balok! Nyerah! Mau gue terjemahin pun udah lupa caranya. Ok, another sign bahwa gue sepertinya emang cuma numpang lewat di audisinya. Seperti target pertama, yang adalah ga ada target, nothing to lose, gue duduk dan belajar not angka.

Saat itu di sebelah gue ada satu pendaftar lain, dan gue sempat ngobrol sama dia. Gue nanya, “Bisa yang not balok gak? Gue lewat nih…” dan jawaban dia,”Sama donk, gak bisa gue juga.” Dan dia ternyata penipu. Dia pinjam bolpoint ke panitia audisi dan kemudian dia belajar not baloknya. Damn! Sebelah gue aja bisa not balok, gue bahkan tanpa pikir panjang gue lewat aja itu lembaran. Udah lah, no hope!

Akhirnya gue dapet giliran interview. Yang interview waktu itu dua orang, dan pertanyaan pertama mereka adalah: “kok ikutan audisi Vox?”. Dan jawaban gue adalah jawaban paling ababil yang gue bisa pikirkan: “Karena Vox menurut gue kalo nyanyi keren.” Ok, that’s not a brilliant answer, I know. Dan kemudian interviewnya beralih ke pengalaman gue choir, yang gue jawab bahwa gue pernah ikut choir sekolah tapi juga namanya sekolah di daerah, seadanya, gak pernah dikasi tau gimana cara nyanyi yang bener dan sebagainya. The one thing I know is, I love to sing!

Setelah itu gue maju ke depan buat tes lagu yang tadi dikasih, yang lembaran pertamanya gue lewat itu lho. Yang ngetes ada dua orang juga, kalo yang tadi cowok semua, yang ini cewek semua. Nah waktu itu gue apply buat jadi bass, karena dulu gue sempat jadi bass. Begitu cek range nada, karena gue bass, maka semakin lama nada dasarnya semakin turun, dan baru turun sedikit, suara gue abis… errr… what? Akhirnya coba range atas, dan gue bisa lebih jauh daripada yang turun. Ok, ini udah malu-maluin, daftar bass tapi suara rendah dikit udah abis? Yeah, dari awal emang gak berharap banyak kok. Akhirnya selesai juga audisinya, dan gue pulang dengan pikiran gak bakalan masuk.

Gue lupa tepatnya hari apa, gue ditelpon oleh yang meng-interview gue waktu audisi, dan dia ngasih tau bahwa gue diterima masuk Vox Angelorum. Dan reaksi gue waktu itu cuma, “Oh ya? Ok.” Yep, pria dingin, gue tau. Dan sebenernya gue agak gak percaya, bukan tujuan gue jadi pria dingin sebetulnya. Haaa? Kok bisa gue masuk? Dan gue seneng. Hahahahahaha… Sesuai dugaan, gue gak jadi masuk bass, gue masuk tenor 2, yang waktu itu quotanya paling banyak, dan paling rusuh.

Begitu masuk, gue gak langsung ikutan latihan bersama team yang lain, karena anak baru harus ada pengenalan terlebih dahulu, tujuannya supaya gak mengganggu persiapan untuk tugas yang udah deket waktu itu, karena udah pasti gue akan gerecokin mereka dengan tanya ini itu, dan itu akan menghambat persiapan yang udah berjalan tentunya. Jadilah kira-kira 4 pertemuan  pertama dijalanin dengan pengenalan cara latihan di sana, dan juga dengan acara beli buku Puji Syukur 4 suara dan map seragam.

Anggapan gue tentang anak choir sebelumnya adalah serius, geek, diem-diem. Ternyata itu anggapan anak dari kampung yang baru pernah nonton Sister Act dan ga tau yang lain. Anak choir itu gila-gila juga ternyata, gak tau choir ini doank atau semuanya gitu, tapi yang pasti temen-temen gue di Vox ternyata tukang becanda dan asik-asik! Apalagi di awal-awal gue masuk ada acara weekend ke Pratista, Bandung, yang ternyata adalah acara rutin tahunan setelah recruitment. Di sana bener-bener jadi tau bahwa temen-temen choir tuh orangnya penuh becandaan tapi juga serius kalo latihan. This is a whole new world for me *jadi kayak Alladin*. But I enjoyed it.

Demikian akhirnya gue ikutan tugas-tugas bareng Vox Angelorum, sempat juga ikutan konser bareng The Indonesian Choir-nya mas Jay Wijayanto, dan konser amal Natal 2010 bareng Hudson (itu lho yang sebelah cewek sebelah cowok). Kebetulan dari akhir tahun lalu, ada rencana untuk ikutan lomba karena udah terlalu lama vakum, yang tujuannya menambah semangat setiap anggotanya buat berkarya lebih baik lagi. Dan lomba itulah yang sebenernya mau gue ceritain. Epiloguenya kepanjangan yah ini? Hahahaha… gak apa-apa, nanti part kedua gue ceritain tentang persiapan lomba dan lombanya…

Jadi demikian part pertama, ditunggu yah part keduanya… (buat yang baca ini dan mirip seperti curcolnya pelatih Vox, ini bukan mau ngikut-ngikut, tapi emang kepanjangan :P)

Regards,
Xander™

Quarter Life


Gue gak pernah bermimpi, apalagi bercita-cita jadi seorang programmer. Dan saat ini, itulah gue. Begitulah, buat beberapa orang, cita-cita semasa kecil mungkin cuma jadi kenangan dan memori belaka, bahwa dulu gue bercita-cita jadi dokter, atau jadi astronom, dan gak pernah terlintas sedikitpun untuk menjadi programmer ataupun pekerja IT.

Dulu, waktu gue masih balita, masih seneng-senengnya ngomong karena baru bisa cerewet, setiap dibawa oleh oma keliling-keliling di sekitar rumah pagi-pagi, pasti ditanyain sama tetangga, udah gede mau jadi apa? Gue jawab gue pengen jadi pilot. Tapi sekolah di ITB. Bukan… bukan, bukan ITB yang tersohor itu, tapi dulu gue punya istilah sendiri. Karena gue dulu doyan banget sama bakso, maka dulu ITB yang gue maksud itu Institut Tukang Bakso. Jaman-jamannya lagu-nya siapa ya dulu, kalo gak salah Melisa ya, yang “abang tukang bakso… mari mari sini… aku mau beliii…”

Seiring berjalannya waktu, cita-cita pilot itu udah gue lupain. Gue pengen jadi dokter. Keliatannya dokter itu keren. Pake jas putih, bawa-bawa stetoskop, periksa dikit langsung kasi resep, terima duit banyak, dan sepertinya emang selalu dibutuhkan. Seiring waktu, cita-cita dokter ini pun menguap, kenapa? Karena gue takut jarum suntik. Asli, gue bukan orang yang berani saat berhadapan sama jarum suntik, biarpun ga penakut-penakut amat sih, tapi rasanya ngeri aja. Oh God, gue membuka aib gue di sini. Gak apa-apa lah…

Lalu waktu mulai belajar tentang benda langit di sekolah, gue pengen jadi astronomer. Gue emang sampe sekarang masih sangat excited tentang benda-benda langit. Bagaimana melihat planet berevolusi pada orbitnya, gaya grativasi yang mengatur semuanya sehingga teratur, dan bagaimana kita bisa mengetahui galaksi-galaksi lain di luar tata surya kita, it’s amazing! Mungkin kalo gue bisa ke luar angkasa (jadi astronaut) and melihat semuanya itu, gue bakal amat sangat amazed. Tapi itu hancur begitu saja begitu bokap gue bilang, “mau makan apa lu ntar, di negara ini jadi astronomer?” Kalo bisa gue jawab, gue jawab “mau makan ini nih…”

Good bye cita-cita jadi astronomer dan astronaut, selamat datang cita-cita jadi arsitek. Oh yeah. Gue punya satu sepupu yang sejak kecil pinter banget. Baik itu belajarnya maupun main game-nya. Di angkatannya, dia wisudawan terbaik ke-dua se UNPAR. Sudah tentu dia menjadi panutan sepupu-sepupu lainnya di keluarga. Ok. Gue tidak jarang dibanding-bandingkan dengan dia. Jadi gue termotivasi juga buat bisa jadi seperti itu. Dan karena bidang yang dia tekuni adalah arsitektur, maka gue mau ga mau juga ter-brainwash dengan arsitektur. Gue suka gambar, dan arsitek kan kerjanya gambar. Ok, lupakan, itu hanyalah efek brainwash semata.

Yap, lalu muncul dari mana IT gue sekarang ini? Ini muncul dari seorang teman yang ngajakin ikut test USM di BiNus. Gue gak tau apa itu IT, yang pasti orang bilang harus bisa matematika (pandangan keliru). Gue emang suka matematika, tapi ternyata begitu masuk, yang ada matematika-nya cuma mata kuliah kalkulus, statistika, dan aljabar linear. Sisanya logika dan juga bisnis. Okay, gue gak suck di kuliah, masih dalam kelas menengah, gak atas juga, tapi pernah ngerasain jadi  salah satu IPS nyaris 4. But then, akhirnya profesi ini yang gue jalani.

Waktu awal-awal kerja, sempat ketemu kakak kelas dulu waktu SMP-SMA, ngasih tau ke gue “Lex, kerja itu jangan terlalu naif, jangan terlalu idealis, apa yang lu ambil waktu kuliah harus jadi kerjaan lu. Gak harus gitu kok, cari yang lain!” Oke, waktu itu gue anggapnya: ini orang kok sotoy bener ya? Hahahahaha… Ternyata perkataan itu masih terpikir oleh gue sampe sekarang. Apalagi ngeliat orang ternyata kalo kerja ga selalu ditempatkan di divisi yang sama terus menerus, bahkan bisa aja dirotasi ke divisi lain yang ga ada kaitannya sekalipun.

25 tahun usia gue, dimulai hari Senin lalu. Orang bilang, 25 itu bakal ngalamin quarter life crisis. Biarpun gue anggap gue gak terlalu ngalamin itu, dan gue sempat bilang yang kebanyakan ngalamin itu adalah wanita, tapi ternyata ada aja sih yang kepikiran. Angka emang ga bisa bohong. Waktu gue tinggal sedikit, buat menentukan sebenernya ini atau bukan sih yang mau gue jalanin. Gue juga gak tau apa terlambat atau belum untuk bener-bener beralih halauan, 180 derajat? Mungkin. Tapi juga masih belum tau alternatif apa saja selain yang gue geluti sekarang ini yang bisa gue coba. Dan gue juga gak bilang gue akan coba sesuatu yang baru, bisa aja gue melanjutkan apa yang udah gue upayakan sampe saat ini. Yup gue tau waktu gue gak banyak lagi, sebentar lagi 25 ini akan bertambah satu lagi, dan satu lagi, dan lagi. Mudah-mudahan gue gak tetap di posisi ini untuk waktu yang lama sampai gue menyadari bahwa gue udah terlambat.

My birthday wishes, saat ini ada tiga: yang pertama adalah kelompok paduan suara gue bisa juara di kompetisi nanti. Yang kedua adalah kesembuhan dari oma gue yang masih terbaring sakit di rumah sakit. Dan yang terakhir adalah kesempatan dan juga petunjuk dari Tuhan buat karir dan profesi gue, semoga bisa sesuai dengan passion gue dan kehendak-Nya.

Doakan ya!

Regards,
Xander™

Who is your God?


Judul kali ini agak extreme, terkesan provokatif, ataupun berbau SARA. Tapi bukan itu maksudnya. Gak ada maksud gue nulis ini untuk memprovokasi ataupun mempertentangkan kepercayaan setiap orang, jadi jangan salah paham dulu ya. Tulisan kali ini cuma jeritan hati dari seorang pemuda berusia tanggung (tanggung udah ampir bangkot) yang merasa terusik dengan konflik-konflik yang dialami belakangan ini. Semua yang ada di sini murni merupakan pikiran gue sendiri, dan gue gak mewakili kelompok ataupun organisasi apapun, hanya permenungan gue sendiri. Semoga tulisan gue ini bisa jadi renungan buat semuanya, harapannya sih mengakhiri konflik, sukur-sukur bisa jadi harmonis… Hope so!

Agama adalah suatu sarana untuk lebih mengenal sang pencipta, untuk lebih mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Setiap agama menganggap ajarannya yang terbaik. Itu tidak salah, toh jangankan agama, partai politik aja menganggap partainya masing-masing adalah yang terbaik, sekecil apapun itu. Jadi, kalau urusannya sama kepercayaan yang anggotanya bukan cuma ratusan ribu tapi udah jutaan bahkan ratusan juta atau milyaran, kenapa itu tidak bisa terjadi?

Lalu gue berpikir, sebenernya agama itu untuk apa sih? Seakan-akan sekarang setiap agama berlomba untuk menarik jemaat atau pengikut, dilatar belakangi oleh tujuan mulia yakni ‘menyelamatkan’ orang yang akhirnya join ke agama mereka. Mungkin memang idealnya seperti itu, tapi sekarang malah terkesan jago-jagoan, lebih banyak orang lebih keren, lebih berpengaruh, lebih berkuasa, bisa ‘ngejek-ngejek’ yang minoritas, dan seterusnya. Minoritas di sini tergantung tempatnya, toh di tiap daerah juga ada yang mayoritas dan minoritas, dan itu selalu berbeda-beda.

Awal dan akhir, ujung dan pangkal dari agama itu kan sebenarnya seharusnya cuma satu: Tuhan. Jadi pertanyaan yang gue jadiin judul bisa gue angkat lagi di sini: Who is your God?
Pertanyaan yang menurut gue tidak pantas, amat sangat tidak pantas untuk ditanyakan. First of all, Tuhan itu maha segalanya. Gak ada satu kepercayaan ataupun agama manapun, yang mengingkari ini, CMIIW. Di kitab suci, tertulis bahwa Tuhan itu baik, pengasih, penyayang, pengampun, sabar, setia, dan lain-lain. Tuhan juga pernah murka, marah, kecewa. Jika Tuhan itu maha segalanya, maka di samping maha-baik dan maha-yang-baik-baik, Tuhan juga bisa jadi maha-pemarah, maha-pencemburu, dan maha-jahat! Tuhan adalah segalanya kan? Nah dari pemikiran seperti ini, gue menganggap, sebenernya Tuhan itu gak bisa didefinisikan se-sempit itu oleh kata-kata yang kita kenal selama ini, oleh bahasa dan logika yang kita miliki saat ini. Karena apabila seperti itu, kita akan kembali ke paradoks-paradoks seperti di atas.

Lalu apa gunanya kitab suci, apa gunanya membacanya, apa gunanya mendengarkannya ketika kita beribadat? Toh juga sebenarnya tidak merepresentasikan Tuhan seutuhnya! Di sini merupakan pentingnya agama. Agama asal katanya dari ‘a’ yang artinya tidak, dan ‘gama’ yang artinya kacau. Tujuan dari agama = tidak kacau balau. Dalam setiap agama ada kitab sucinya. Dalam kitab suci itu dituliskan bahwa yang Tuhan inginkan itu semua hal yang baik, semua hal yang teratur, semua hal yang harmonis. Agama difungsikan sebagai sarana, sekali lagi sarana, supaya kehidupan manusia ini harmonis, teratur, baik adanya. Agama seharusnya tidak punya kepentingan lain such as politik, moneter, apalagi banyak-banyakan pengikut. Konyol! Agama diharapkan bisa memagari manusia agar beraktifitas sesuai koridor-koridor yang ditentukan, yang diharapkan membawa harmoni dan kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Bicara tentang hal baik, gue pikir sekarang kata baik pun sudah bias. Baik buat gue bukan berarti baik buat semua orang kan? Baik menurut salah satu agama bukan berarti baik menurut agama lainnya. Bisa kita lihat konflik-konflik yang terjadi karena kepercayaan, yang paling besar tentu Israel-Palestina, meskipun menurut gue itu bukan lagi konflik kepercayaan tapi sudah jadi konflik nasional, politis, dan juga kepentingan moneter. Baik itu sendiri berasal dari Tuhan yang maha-baik, jadi baik itu sudah tentu bukan manusia yang mendefinisikannya. Baik seharusnya universal, bukan baik menurut Kristen, baik menurut Islam, baik menurut Buddha, dan seterusnya, bukan itu, bukan! Baik ya…. baik! Titik. Tidak ada perdebatan seharusnya. Kalau masih ada perdebatan baik menurut pihak satu tidak baik menurut pihak lain, berarti itu belum sepenuhnya baik. Belum merepresentasikan baik-nya Tuhan. Sekali lagi, Tuhan kan maha-segalanya. Baik yang berasal dari Tuhan seharusnya dalam segala aspek. Tidak ter-kotak-kotak seperti sekarang ini.

Jadi gue sekarang malah heran, karena agama manusia bisa saling tuduh, saling memaki, saling menghina. Karena agama, manusia bisa saling menyikut, memukul, bahkan saling bunuh. Oke, ajaran itu memang memagari manusia. Tapi pagar itu kan gunanya untuk supaya manusia gak kacau balau, terstruktur, dan harmonis. Harmonis di sini harmonis yang universal seperti Tuhan yang universal, bukan harmonis menurut agama tertentu, atau harmonis menurut kelompok tertentu, seperti yang udah gue kemukakan tadi. Jadi pagar ini menurut gue seharusnya adalah pagar yang fleksibel, selama hubungan dengan sesama bisa benar-benar harmonis, maka pagar itu berfungsi, bukan pagar yang kaku dan keras yang malah mengkotak-kotak-an manusia seperti sekarang ini.

Ada satu hal yang cukup aneh dan lucu sebenarnya dari manusia. Manusia itu ingin berbeda dari yang lain, tampil beda, unik. Padahal, seperti yang kita semua tau, setiap orang dilahirkan berbeda. Tidak ada satu orang pun di dunia yang sama ‘plek’ satu sama lainnya. Selalu ada perbedaan, dan itu membuat semua orang dilahirkan unik. Tanpa berusaha berlebihan pun, Tuhan sudah membuat kita unik adanya. Tinggal bagaimana kita menerima perbedaan itu semua menjadi semua harmoni yang mengagumkan. Yang lucu adalah, everyone wants to be different. Tapi begitu ada orang yang memilih sesuatu yang beda, selalu ada celaan. Orang yang memilih agama yang beda dari beberapa orang, dianggap dosa. Jadi sebenernya manusia itu maunya apa yah?

Gue beragama. Agama gue Katholik. Tapi gue ga beranggapan bahwa agama gue yang terbaik. Aneh? Menurut gue enggak, karena beragama bukan melulu fanatisme. Gue fanatik, tapi juga enggak buta. Iman gue? Gue menganggap agama tidak berhubungan langsung dengan iman. Iman itu personal, antara gue sama Tuhan. Agama hanyalah pendukung buat gue mengembangkan iman gue. Gue juga bukan orang yang terlalu religius. Beribadat seperti orang-orang Katholik lainnya yang setiap minggu ke gereja, kalo males juga ga ke gereja. Gue orang yang juga berdosa, sering berpikiran kotor, sering mengganggu orang lain, sering menyakiti orang lain baik sadar ataupun gak sadar. Jadi agama merupakan hal yang penting buat gue sebagai pengingat bahwa gue manusia pendosa yang gak bisa hidup sendiri. Gak bisa hidup sendiri. Oleh karena itu, gue harap agama bisa bawa harmoni buat kita semua. Bukan pembawa perpecahan.

Kembali lagi, who is your God? Pertanyaan ini seharusnya diakhiri di sini saja, karena udah tidak relevan sama sekali. Tuhan itu maha besar yang tidak dapat kita kotak-kotak-an dengan pikiran kita yang kecil. Agama manapun, kepercayaan manapun, tidak masalah Tuhannya disebut apa, dalam bentuk apa, dan menyebarkan agama apapun, yang penting kita tau bahwa kita itu bukan apa-apa di hadapan-Nya. Bahwa kita hanya bisa berharap akan diselamatkan. Bahwa kita hanya berharap kita bisa bahagia, bahwa kita hanya berharap dan berharap akan sesuatu yang baik yang kita percayai berasal dari-Nya. Sarananya? Agama. Jadi, beragama apapun kita, gue harap, harmoni dan kebaikan bisa terjadi di antara kita semua, tanpa sama sekali menyinggung kepercayaan dan tata-cara yang kita pegang dan kita anut dalam agama kita masing-masing. Isn’t that nice?

Have a great weekend, God bless us everyone.

Regards,
Xander™

Kenapa Hari Menyenangkan Cepat Berlalu?


Sayang sekali hari yang menyenangkan itu selalu cepet berakhir ya, rasanya gue mau lebih banyak hari kayak hari ini. Melakukan semua hal yang gue senengin emang bisa bikin waktu terasa singkat, super singkat malah. Somehow, mudah-mudahan hari ini bisa nambah energi dan semangat buat beberapa hari ke-depan sebelum weekend kembali datang! Me love today!

Pagi-pagi bangun dan ga khawatir masuk kerja telat karena emang hari ini hari libur, oh ya, sebelum terlambat dan sebelum telat (apa bedanya coba), selamat hari raya Waisak bagi semua yang merayakannya! Yeah, hari ini libur di tengah hari-hari kerja. Lumayan, bisa dipake bangun agak siang, tapi juga ga bisa siang-siang amat karena ada choir practice yang periode latihannya 2x lipat dari biasanya. 4 jam nonstop. Tapi karena mungkin gue seneng, 4 jam itu juga ga berasa, yang berasa sih cuma lapernya doank karena emang lom makan, cuma makan indomie satu porsi aja pagi-pagi, maklum orang Indonesia, lom nemu nasi dibilangnya lom makan, katrok!

Entah kenapa gue hampir selalu menikmati sesi latihan, biarpun waktu itu payah-payahan karena lagunya sulit, atau lagi kurang enak badan, atau lagi kecapekan karena kerjaan, tapi tetep bisa bikin seneng. Yah puji Tuhan deh masih ada sesuatu kegiatan yang di luar kerjaan dan bisa bikin semangat, dan itu terbukti lagi hari ini. I enjoyed today’s practice! Mudah-mudahan apa yang udah dilatih dan diusahakan bisa meraih hasil maksimal nanti pada waktunya, doain aja ya!

Sesi kedua yang bikin lebih seneng lagi itu sebenernya setelah latihan. Tapi soal yang ini, mungkin akan gue ceritain kapan-kapan, masih belum siap mental dan fisik buat ceritainnya *halahhh*

Anyway, masih komplain aja kenapa hari yang menyenangkan itu cepet abis ya, apakah ada paradoks waktu kalo kita seneng dan kalo kita sedih ya? Soalnya kalo lagi sedih, bete, waktu itu rasanya lambat banget, sehari aja ga abis-abis, hahahaha… Somehow, postingan yang sedikit ini gue publish supaya gue bisa tidur malam ini, karena kalo lagi semangat-semangat gini susah tidur gue, bawaannya melotot mlulu, jadi mudah-mudahan setelah ngoceh-dikit di blog bisa tidur…

So, for today’s quotation (from : http://icanread.tumblr.com)
Today's Quotation
Selamat malam, sampai jumpa di hari menyenangkan berikutnya!

Regards,
Xander™

PUSH


Malam ini sebenernya sudah ditutup dengan indah, sepiring ketoprak Pak Muktar yang udah lama pengen gue cobain udah kesampean sepulang misa di gereja tadi malam. Tapi begitu liat blog yang udah berbulan-bulan ga disentuh, rasanya pengen ngetik seketik dua ketik kalimat… Sempat bingung mau ngetik apa, akhirnya gue serahkan sama keyboard gue, tergantung dia lah mau ngetik apa, suka-suka deh… akhirnya jadilah postingan ini!

Kerjaan baru gue udah gue jalanin sekitar 5 bulan. Kalo ditanya banyakan senyumnya atau banyakan stressnya, jujur aja banyakan stressnya. Memang tujuan gue untuk beralih tempat kerja dulunya karena ingin mencari suasana baru, mencoba hal baru, dan sukur-sukur bisa nemuin passion gue dalam bekerja. But then, gue kembali ke tahap bingung. Bingung apakah ini yang memang mau gue kerjain. Apakah ini yang memang harus gue lakukan. Apakah gue harus berusaha untuk hal-hal seperti ini, yang sejauh ini cukup bikin pusing dan capek fisik juga mental.

Ketika kembali kepada pemikiran seperti ini, satu-satunya hal yang bisa menguatkan diri gue adalah harapan. Apa harapan gue? Jabatan di kantor? Kedudukan di kantor? Gaji yang naik? Tentu itu menjadi harapan, tapi harapan yang seperti itu sebentar doank juga bakalan mati. Kenapa? Karena gue sendiri ga tau sebatas apa harapan gue terhadap tingginya jabatan, berkuasanya kedudukan, dan besarnya gaji yang gue dapatkan. Gak bakalan berakhir. Lalu apa donk? Gue teringat lagi dengan singkatan dari PUSH. Pray Until Something Happen. At last, He provide them all. Jabatan, kedudukan, gaji, hanyalah sebagian kecil yang Dia sediakan buat gue, dan buat kalian semua tentu. Kita gak perlu terlalu khawatir sebenarnya soal itu. We just need to try our best. Push… push… push… and let He move the rock for us, because we obviously can’t move it. Kita gak bisa menentukan masa depan, kita gak bisa mentakdirkan sesuatu, masa depan merupakan sesuatu yang abu-abu buat kita. Kita cuma cukup berusaha dan berusaha dan berdoa dan berdoa.

Tanpa ambisi? Tentu tidak. Gue rasa gue salah satu orang yang paling banyak memikirkan masa depan tiap harinya. Otak gue tetep muter biarpun gue tidur. Salah satu buktinya adalah, Minggu pagi ini, gue terbangun dengan kaget karena gue bermimpi tentang pekerjaan gue. Oh God, masa sewaktu tidur pun yang gue mimpiin adalah kerjaan? Dan parahnya, gue kaget karena gue kira hari ini adalah hari kerja. Setelah termenung sekitar beberapa detik, baru gue sadar hari ini Minggu, dan gue pun kembali rebahan. Fiuhh!

Tapi ambisi aja kan emang gak cukup. Gak berguna kalau sama sekali gak dilakukan. Kalo cuma dipikirin mah semua orang juga bisa. Yeah I know that! Mudah-mudahan gue cukup brave buat bertindak, ngambil keputusan, dan ngambil kesempatan yang selalu seliweran di depan mata tapi sampai saat ini masih gue cuekin.

Setelah April yang luar biasa, masih ada Juli yang sangat amat luar biasa. Entah kenapa April dan Juli menjadi sangat penting taun ini. Padahal sebelumnya gak bakalan kepikiran bahwa dua kegiatan utama gue bakal bentrok di bulan yang bersamaan. Yeah, ini merupakan sebuah tantangan, apakah gue bisa bagi waktu, jaga kesehatan, dan juga berkembang dalam suasana yang menuntut di kedua pihak. Somehow, gue berhasil menjawab tantangan itu buat April. Dan gue yakin se-yakin-yakin-nya bahwa Juli pun gue bakal berhasil, tentu dengan bantuan temen-temen dan juga kehendak Tuhan sendiri ya. Kalo kata temen-temen choir gue: “YES WE CAN!”

*saat gue ngetik ini Liverpool kebobolan lewat gol cantik Van Der Vaart, damn!*

Dan akhirnya, konsentrasi gue buyar buat ngetik sisanya, gak tau mau ngetik apa lagi, gara-gara liat Liverpool main jelek di TV. Ok, lanjut besok-besok aja deh, saatnya mendukung tim kesayangan, mudah-mudahan gak kalah sukur-sukur menang…

Sebuah quotation buat mengakhiri postingan ini:

“PUSH!”

Regards,
Xander

Soccer for a better World


Belakangan ini, gue liat nasionalisme masyarakat Indonesia sekali lagi dibangkitkan, bukan oleh para pejabat, bukan oleh para tentara, bukan oleh para pegawai negeri dan juga oleh pengusaha, tapi oleh 11 orang (plus-plus) di lapangan hijau. Timnas Indonesia, alias Garuda. Mereka sanggup membangkitkan semangat nasionalisme kita secara cukup signifikan, contohnya saja, waktu mereka bertanding, jalanan di Jakarta sepi, karena kebanyakan orang nonton timnas lewat tv ataupun nonton bareng di tempat-tempat tertentu, selain tentunya yang rela antri berjam-jam dan berhari-hari buat dapet tiket nonton langsung di Gelora Bung Karno, Senayan. Sungguh rasanya keinget lagi akan masa-masa jaya perbulutangkisan Indonesia, waktu jaman Susi Susanti dan Alan Budikusuma menang medali emas Olympic di Barcelona dulu. Waktu itu, ampir setiap rumah nonton perjuangan atlet-atlet bulutangkis kita di tv. It feels great!

Tapi herannya, ada aja yang mengganggu suasana kondusif seperti ini. Ketika sepakbola mulai menggantikan bulutangkis sebagai olahraga yang paling digemari di negara kita, dan udah terbukti bisa menjadi alat pemersatu bangsa yang cukup efektif, ada saja yang masih mempermasalahkan simbol burung garuda yang disematkan di dada kaos timnas yang dikenakan tiap pemain. Alasannya konon adalah tidak hormat untuk menggunakan lambang kebesaran negara untuk kaos yang mungkin bisa sobek, ataupun kotor terkena tanah di lapangan. Oh God, bukankah lambang itu tujuannya pemersatu bangsa? Jadi ketika lambang itu akhirnya dapat menyumbangkan kegunaannya yang utama yakni pemersatu bangsa, kenapa dilarang?

Demikian juga dengan lembaga tertinggi pelindung sepakbola Indonesia, PSSI. Ketua PSSI sekarang adalah mantan narapidana. Itu sudah ditentang oleh banyak sekali orang di negara kita. Ketika timnas kita dipuji setinggi langit, menginspirasi semua orang di negeri kita ini, PSSI justru dicaci maki, ketuanya disuruh mundur. Dan apa yang diperbuat beliau? Tetap bertahan di posisinya. Dan ketika ada pengusaha-pengusaha yang mau membiayai suatu liga yang mandiri tanpa dibiayai pemerintah, LPI (Liga Primer Indonesia), PSSI malah menentang dan mengancam. Bukankah ada liga tandingan itu bagus? Masyarakat pun dapat memilih dan melihat sendiri, mana yang lebih bagus. Tidak usah takut liga-nya PSSI (ISL – Indonesian Super League) akan hancur, kalau memang peminatnya masih tetap banyak, maka liga itu akan tetap berjalan. Dan kekonyolan ini berlanjut. Pemain yang bermain di LPI tidak boleh memperkuat timnas Indonesia. Oh God, apa lagi ini, kebebasan dan kesempatan untuk kembali berjuang untuk negara malah dikekang oleh aparatur negara itu sendiri? Apa kata dunia???

Belakangan beredar kontroversi lagi, yakni tentang surat yang dilayangkan oleh FIFA – badan sepakbola dunia, untuk PSSI, yang isinya adalah mencekal LPI. Konon katanya, surat dari FIFA itu akal-akalan dari PSSI aja, alias surat itu palsu. Kontroversi itu dibahas di sini, terlepas dari benar atau tidaknya ya. Namun kalo itu benar terbukti palsu, yah mereka sendiri yang menanggung akibatnya. Toh LPI sendiri menyatakan tidak takut akan ancaman dari PSSI ataupun FIFA, karena mereka merasa mereka benar dan tidak melanggar aturan. Yah, setidaknya kita sebagai masyarakat juga sudah dewasa, bisa menilai mana yang bagus dan mana yang buruk.

Poin dari postingan gue kali ini adalah, ketika semangat dan kesempatan perubahan ke arah yang lebih baik itu ada, mengapa selalu ada yang menghalangi? Ini merupakan hal yang menggelitik pikiran gue. Hal ini bukan hanya terjadi dalam sepakbola aja, dalam hal ini adalah sepakbola sebagai pemersatu bangsa, ini cuma satu contoh yang belakangan ini mencuat. Hal ini sebenernya terjadi hampir di seluruh aspek kehidupan kita. Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik, mengapa tidak kita gunakan? Berarti sebenarnya ketika kesempatan itu datang, kita semua adalah manusia yang bebas. Bebas dalam arti kita bebas buat memilih, mau jadi apa kita? Mau jadi lebih baik? Mau jadi tetap seperti sekarang? Atau malah mau jadi lebih buruk? Terkadang kita juga terkekang oleh status dan kebanggaan diri yang berlebihan, seperti contohnya PSSI yang menurut gue terlalu bangga akan statusnya sebagai induk olahraga sepakbola se-Indonesia. Mengapa? Karena kita menjadi buta, menjadi egois, dan tidak melihat hal-hal lain yang baik, bahkan lebih baik, yang timbul dan menjadi pilihan kita. Tuhan memberikan kebebasan sebebas-bebasnya bagi kita untuk memilih, so we got to make a good choice, shouldn’t we?

Postingan gue kali ini sukur-sukur menjadi kritikan membangun buat PSSI (kalo postingan gue ini dibaca), dan juga sebagai cerminan buat diri gue sendiri, apakah gue juga udah berani membuka diri terhadap kesempatan-kesempatan yang muncul, terhadap masukan dan juga pilihan yang mungkin lebih baik dari yang ada sekarang ini. We are having our own comfort zone. Kalo kita ga berani melepaskan itu semua, maka kita akan jadi buta. Mudah-mudahan gue sendiri juga bisa seperti yang gue harapkan dari postingan kali ini, dan mudah-mudahan, dengan perubahan ke arah yang lebih baik dari masing-masing individu, we are going to make our world a better one. I hope.

Regards,
Xander™