Work-Life-Balance


I am about to reach my 32nd years breathing in this world. I have been spending my last 9 years to earn for a living, after the whole 18 years preparation period at school before. So I am going to share my view as an inexperienced (realizing that 9 years of professional experiences is nothing compared to those successful men out there), about what is ‘work-life balance’, based on my own point of view. Do feel free to criticize or to disagree on this.

I started my professional career as a trainee. I spent my first 4 months to be trained Java-Oracle-Networking, as well as soft skills such as presentation and amazingly: table manner (which immediately evaporated out of my mind as soon as the lesson is over, I am so sorry for the trainer). So during that time, as a newborn professional who was trying to grab onto anything good enough to start, I did not even have any concept of work-life-balance. it was ok for me to come to office after office hour, it was ok for me to have non-paid overtime (there was one period of working late until midnight every single day, and I remember it was for one full month), and I was not too pushy if my salary raise is not as what as I expected. All of those were for the sake of learning. I felt like I need to take whatever knowledge and experiences I could take during that time.

Then, everything changed when the Fire Nation attacked I had more confidence. I started to look outside, and I began to compare. I know that in some way, it’s bad to compare, but in this kind of situation, you had to. I realized that it was the time for me to move on, because I was hungry for more exposure. Hence, in short, I have worked for 5 companies since I left my first job, including the current one.

Once I experienced a work environment in which you are expected to be available 24/7 (the boss even said that this is because I work in IT field and it has to be like this). During that time, it looks as if you are not allowed to have a peace of mind, even if you are out of office, even if you are overseas during holiday. What do you think about this? Is this the opposite of work-life-balance? Or do you think this one is still in balance?

Another experience of mine was surprisingly quite an opposite. This time, I was pushed not to work outside working hours. I was told not to bring your work home. Everybody tried not to contact anybody from work for work-related purpose outside office. So what about this one? Does this mean work-life-balance?

I believe not. It is not that simple. For me, work-life-balance is entirely subjective. To what? To the environment and level/position. Of course all of my experiences entirely are related with IT industry since I am working in it. Now, let’s talk on why.

Environment. If you imagine that you are working as a bartender (I am trying to imagine something entirely different than mine), you are working hard every day, standing, preparing drinks. But what kind of possibilities could happen after his/her working hours finished? Nothing. Nobody will call him/her after his/her shift ended. On the contrary, if you are a bodyguard – for example, you can expect that you will work almost 24 hours a day during your guarding period. You should be fully alerted during that period. From this two simple examples, I can understand that based on the environment or the type of job we are working on, there are some certain different standards that allow us to determine if we have work-life-balance. We can’t say that for the bodyguard you have to provide 9 to 5 working hours, or we can’t say that for a bartender you have to work fully 24 hours a day. Each of the environments has it’s own standard.

Level/position. I always thought that if I got promoted to a certain level in my professional career, I can enjoy my life better. I can have more spare time for me and family, or I can be more relaxed in life. But reality sometime speaks differently. I have seen a unit manager in a bank who worked non stop for 3 days. So clearly this is not the case. But again, ideally, if you are in a higher position, you will have more responsibilities. You will have more pressure since you are not in the bottom anymore. Your subordinates will pressure you, as well as your bosses. Even if you are on the top of the hierarchy, you will still be pressured from your peers or from your subordinates. But wait, let’s try again to imagine if you are a fresh graduate. Again maybe similar as my case before, you will be care less about your working hour. As long as you got your basic salary paid, you will work as hard as you could. But if you are a general manager, you have somebody to delegate your works to, you have a team you can manage to get something done. So ideally, you should have more time for something else.

Let’s try to summarize these. Based on environment, there are different standards that define work-life-balance according to each ones. As well as for each level/position, there are different responsibilities that also define work-life-balance. So for me, work-life-balance means you can divide your time according to your standard and role. You can’t simply ask for the same annual leave quota between a fresh graduate and a general manager. The more the responsibilities, the more off-day is provided by the company. For me, work-life-balance is not a rule. It is a mindset of each person on how he/she will work. It is a culture that should be initiated by individuals, not entirely by company rules. Basically, companies want you to work as hard as you can, because companies are based on profits. But if the individuals already have work-life-balance mindset and tried to apply this to each-other, at the end, it will define the culture of the company itself.

Work-life-balance is to prioritize. What would you prioritize in life? Mine is family. Second is work. So I will try to put family first instead of work in every occasion, as best as I can.

So what is work-life-balance according to you?

Note: image in this post is courtesy of www.huffingtonpost.com

-alexteja

Advertisements

What Flood Taught Us, Jakartans?


Flood in Bundaran HI Jakarta - 2013 Jan 17
Flood in Bundaran HI Jakarta – 2013 Jan 17, taken from Facebook Page of The Jakarta Globe

Gue bukannya mau ikut-ikutan trend masa kini di Jakarta, yang memberitakan banjir seperti semua orang di social media, dan juga semua saluran televisi dan radio, tapi emang ada beberapa point yang menggelitik yang gue alami sebagai “warga Jakarta” yang juga terkena efek dari banjir beberapa hari ini, walaupun masih dikategorikan sebagai orang beruntung yang bisa dapat listrik dan juga tidak kena genangan air.

Jadi seperti yang kita semua tau, dua hari belakangan Jakarta udah kayak kota mati. Kantor pada libur, ataupun karyawannya meliburkan diri. Sama saja, toh semua juga merasa susah. Intinya, banjir kali ini secara keseluruhan merugikan hampir seluruh warga Jakarta, dengan korban jiwa yang juga tidak sedikit, apalagi korban materiil yang sudah tidak terhitung jumlahnya. Di tengah kesedihan, keprihatinan, dan juga kepedihan yang kita alami, mari kita melihat beberapa point yang bisa kita gunakan buat evaluasi dari peristiwa bencana banjir ini.

Yang pertama yang gue dapatkan adalah: Jangan terlalu mudah menghakimi sesuatu. Kemarin kebetulan gue mendapat kesempatan buat ikutan bantu-bantu posko banjir di gereja gue. Pastor parokinya, Romo Heri, sejak pagi sudah berkeliling bersama seorang pastor lainnya dengan sebuah sepeda motor, untuk memantau situasi warganya yang terkena banjir. Siangnya, beliau bercerita sebuah renungan yang cukup menghentak buat gue. Begini ceritanya: “Terkadang sesuatu yang kita anggap tidak penting, bahkan kita hindari setiap harinya, bisa jadi dewa penolong yang sangat kita harapkan saat kita kesusahan”. “Contoh paling nyata: gerobak sampah”. “Setiap hari kita menghindari gerobak bau itu, namun coba kita lihat sekarang, orang berebut untuk naik gerobak itu melewati genangan air, bahkan berani membayar!”. Betul juga ya, kalau gue naik motor pun gak mau dekat-dekat gerobak sampah, bau! Tapi kenyataannya sekarang si gerobak bau itu sangat dibutuhkan lho! Hal ini bisa menjadi bahan renungan buat kita, apakah kita juga menjadi hakim yang buruk buat orang-orang di sekitar kita? Apakah kita juga sering menghakimi orang terlalu cepat? Apakah sebenarnya kita layak menghakimi orang sementara kita tidak melihat diri kita sendiri?

Yang kedua adalah soal kepedulian. Gue melihat di posko yang terdekat dengan gue, yakni di posko gereja gue sendiri, ternyata orang-orang cepat tanggap ya dalam hal bantuan buat orang-orang lain yang membutuhkan. Gue salut lho! Bahkan orang-orang tajir yang gue tau, ternyata cukup peduli dengan datang langsung ke posko dengan bantuan yang mereka bawa. Luar biasa! Di saat anggapan orang-orang kebanyakan terhadap para orang kaya sangat buruk sekarang ini, ternyata masih banyak yang peduli, masih banyak yang tanpa pikir panjang langsung membantu, tanpa diminta namanya dicantumkan di koran, ataupun diliput televisi. Ternyata kemanusiaan di kota megapolitan ini masih ada…

Yang ketiga ini lebih kepada sebuah kritik. Berdasarkan pantauan mata beberapa orang yang terjun langsung ke lokasi banjir yang termasuk parah, banyak sampah berserakan dan terbawa genangan air, dari sampah makanan, sampah plastik, sampai bangkai-bangkai tikus atau kucing, dan berbagai ‘benda’ lain yang rasanya sudah keterlaluan joroknya. Ini menunjukkan apa? Warga Jakarta itu JOROK bukan main. Kira-kira dua atau tiga minggu lalu, gue melihat sendiri apa yang diberikan orang tua-orang tua bagi sebagian besar anak di Indonesia tentang kebersihan umum. Hasilnya, NOL BESAR. Gue menyaksikan seorang anak kecil dengan mudahnya melempar gelas plastik bekas minuman ke tengah jalan, padahal di sampingnya ada tong sampah. Yang membuat kesal? Orang tuanya ada di sampingnya dan cuek dengan perilaku anaknya, dan gue hampir yakin sebenarnya orang tuanya pun kalau buang sampah seperti itu. Bandingkan dengan cerita dari negara tetangga kita, Singapore: Ada seorang bapak dan anaknya sedang makan ice cream cone di tengah teriknya matahari siang itu. Seketika ice cream si anak jatuh ke trotoar. Sang bapak dengan sigapnya langsung mengambil cone-nya, lalu mengambil tissue dan membersihkan sisa ice cream yang ada di trotoar sampai bersih! Luar biasa! Apabila terjadi di Jakarta? Sudah hampir pasti ditinggal begitu saja. Jadi kalau masyarakat masih pada protes ke pemerintah Jakarta yang baru saja duduk 3 bulan ini, gue rasa salah alamat. Coba liat dulu masing-masing, sudahkah anda membuang sampah pada tempatnya?

Yang terakhir adalah persatuan. Dengan kodratnya sebagai manusia, gue liat memang perlu ada sesuatu yang mempersatukan sekelompok lebih orang. Dan sayangnya seringkali sesuatu itu adalah peristiwa buruk seperti bencana banjir ini. Di saat bencana seperti ini, tidak penting lagi apakah orang itu adalah orang Batak, Jawa, Betawi, Tionghoa, dan sebagainya. Tidak penting lagi apakah orang itu orang Islam, Katolik, Buddha, tetapi yang penting adalah orang itu butuh pertolongan, ya ditolong! Sungguh sebenarnya gue pengen liat hal ini tidak terjadi ketika kita sedang mengalami musibah saja, seharusnya hal ini terjadi setiap hari!

Intinya, semoga banjir ini gak cuma membawa kepedihan semata, tetapi juga menjadi pelajaran bagi kita semua. Gak sekedar pelajaran, tapi juga menjadi titik perubahan buat masing-masing dari kita khususnya warga Jakarta, sehingga apabila hal ini pun masih sampai terjadi lagi, tidak menyalahkan satu sama lain, melainkan mencoba membangun lingkungannya, membangun kota-nya, sehingga menjadi lebih baik. Dengan demikian, menurut gue tidak mustahil Jakarta bisa bebas banjir.

Terakhir, untuk yang mengalami bencana banjir, tetap semangat, tetap berusaha, dan tetap berdoa. This to shall pass! God be with you!

Regards,
Xander™

Oh Snap! It’s December Already!


Image

It’s December already, just a few days left to go pass through 2012, entering a new number with hopefuly a new luck, a new fresh start. I don’t know if what I am feeling right now is legit to be called quarter life crysis, but I do far from what you called the comfort zone. I am a 26 going 27, with so many things inside his head, so many , so many problems, so many pressures, but despite of all the bad things, there are also so much hope, so many smiles, so much laughters, and so much love. Sometimes I complained to my mind, about why did it store too many stuffs in here, and sometimes it made me feel like I am willing to empty my head for a while, but I can’t, because frankly, I am not giving myself permission to do that.

I am living with many worries, worries about the plan of our choir to go to Germany next year (this one occupied A LOT in my mind), worries about my job (lately, it’s been far from stable at the office), worries about future, about financial, future marriage, and also some others little stuffs that always keep my brain worked. Sometimes, those worries will keep me exhausted. But sometimes, they will remind me that I am still alive. Alive person will always have worries. Then when I came to that, I still could be grateful.

Since it’s reaching the end of 2012, I will have to take a few steps back, to reflect on my life this whole year, and to think clearly where should I put my next step on. May the force be with us. God speed.

Regards,
Xander™

Fate (Takdir)


Gue masih gak ngerti dengan yang namanya takdir. Konsep takdir itu gak bisa gue cerna, udah beberapa kali gue mencoba untuk memikirkan apa yang orang sebut dengan Fate, Takdir, yang katanya sudah ditentukan dari sananya, oleh Tuhan yang Maha Kuasa, yang setiap orang sudah ditentukan jalannya sejak dia diciptakan, sejak dia di-hidupkan ke dunia sebagai mahluk apapun. Takdir.

Di satu sisi, takdir itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Tapi kalau semua sudah ditentukan oleh Tuhan, balik lagi ke pertanyaan mendasar di kehidupan ini, kenapa harus ada orang jahat dan orang baik? Kenapa harus ada kejahatan? Kalo misalnya seseorang sudah ditakdirkan menjadi seorang pembunuh misalnya, karena memang itu takdirnya, maka setelah dia membunuh, dia berbuat jahat. Karena berbuat jahat, dia mati masuk neraka. Adil? Kalo begitu konsep takdir, gue sangat-sangat kasihan sama orang yang ditakdirkan masuk neraka semenjak dia diciptakan. Poor soul.

Satu sisi lagi, konon kitalah yang menentukan takdir kita sendiri, kitalah yang mengusahakan nasib kita sendiri. Gue malah makin bingung, kalo gitu, gak ada takdir donk, semua mungkin, everything is possible. Biarpun ini lebih absurd, tapi gue lebih suka konsep yang ini. Berarti gue bisa melakukan apa aja dengan tau segala konsekuensinya. I am the master of my life, I am the master of my fate. Lalu kalo begitu, bukankah Tuhan jadi gak mengatur semuanya? Berarti Dia jadi bukan maha segalanya donk? Arrgghh… puny brain, emang gak nyampe kali ya mikirin ginian? Semuanya salah nih jadinya…

Takdir. Kalo ngomongin takdir, belakangan ini ada satu pertanyaan yang selalu muncul di benak gue. Pertanyaan itu adalah: why me? Why “why me?” me? (uwogh, the inception of why me). Jadi gue sebenernya belakangan sering merasa berbeban berat. Beberapa kali berasa gak mampu, berasa kok gue yang harus menanggung semua beban pikiran ini. Kalo ini takdir, kok Tuhan ngasih takdir ini ke gue, ngasih skenario ini ke gue ya? Konsultasi gue ke beberapa orang mendapat jawaban: “Ambil positivenya aja”, “ini melatih diri kita menjadi lebih kuat”, “kalo diberi beban besar berarti kita dipercaya untuk menanggungnya”. Sungguh, tidak satupun dari kalimat-kalimat di atas itu bisa meringankan beban gue saat itu. Yang bisa mengangkat semangat gue lagi adalah kalimat ini: “Tuhan gak bakal ngasih tanggung jawab yang gak bisa kita tanggung”. That’s it.

Kalo begitu, berarti gue sekarang membelot. Gue sekarang mengadopsi konsep takdir yang pertama, yang sudah Tuhan sediakan buat gue sejak gue diciptakan. Berarti, semua tantangan dan semua tanggung jawab yang gue rasa berat ini, sesungguhnya, karena itu ditakdirkan buat gue, berarti bisa gue tanggung. Lalu urusan orang yang ditakdirkan masuk neraka? Gue kembali menyalahkan otak gue, puny brain, maksud Tuhan mungkin lebih dari itu, gue aja yang bego gak tau bahkan mendekati maksud-Nya pun tidak.

Anyway, kalo dari antara anda kalian ada yang berbeban berat, ada yang lagi stress, capek, dan merasa: “why me?” juga sama seperti yang gue rasakan, coba pikir lagi deh, kita hidup aja cuma bentar, paling 70 tahun, lewat dari situ bonus. Apa sih yang mau kita cari di hidup kita? Kalo yang menciptakan kita aja udah menentukan jalan kita seperti apa di dunia ini, kenapa kita capek-capek komplain? Kenapa kita capek-capek mengeluh? Tinggal jalanin aja sebaik mungkin, let God do the rest. Yup ngomong sih gampang, gue sendiri pasti nanti menyangkal omongan gue ini, makanya gue tulis di sini supaya kalo gue berasa down lagi, gue bisa liat tulisan gue, dan gue bisa menentukan lagi apakah konsep yang gue pilih di sini itu benar ato gak. Namanya juga manusia, bisa salah dan pasti salah. To be old and smart you have to be young and stupid first. Hidup ini proses pembelajaran. Gak ada noda, ya gak belajar.

Hmmm… at the end, gue juga masih belum ngerti konsep takdir yang pas, konsep takdir yang bener, apakah ada takdir atau enggak, whatever. Sejauh gue mampu menghadapi hidup gue yang sebentar ini dengan positive, dengan harapan, dengan kebahagiaan dan cinta, gue rasa yang nyiptain gue jelas-jelas mencintai gue. What can you expect except for being loved for your entire life?

Postingan takdir ini sekaligus mengakhiri masa hiatus gak jelas gue. Welcome back to my thoughts.

Regards,
Xander™

Quarter Life


Gue gak pernah bermimpi, apalagi bercita-cita jadi seorang programmer. Dan saat ini, itulah gue. Begitulah, buat beberapa orang, cita-cita semasa kecil mungkin cuma jadi kenangan dan memori belaka, bahwa dulu gue bercita-cita jadi dokter, atau jadi astronom, dan gak pernah terlintas sedikitpun untuk menjadi programmer ataupun pekerja IT.

Dulu, waktu gue masih balita, masih seneng-senengnya ngomong karena baru bisa cerewet, setiap dibawa oleh oma keliling-keliling di sekitar rumah pagi-pagi, pasti ditanyain sama tetangga, udah gede mau jadi apa? Gue jawab gue pengen jadi pilot. Tapi sekolah di ITB. Bukan… bukan, bukan ITB yang tersohor itu, tapi dulu gue punya istilah sendiri. Karena gue dulu doyan banget sama bakso, maka dulu ITB yang gue maksud itu Institut Tukang Bakso. Jaman-jamannya lagu-nya siapa ya dulu, kalo gak salah Melisa ya, yang “abang tukang bakso… mari mari sini… aku mau beliii…”

Seiring berjalannya waktu, cita-cita pilot itu udah gue lupain. Gue pengen jadi dokter. Keliatannya dokter itu keren. Pake jas putih, bawa-bawa stetoskop, periksa dikit langsung kasi resep, terima duit banyak, dan sepertinya emang selalu dibutuhkan. Seiring waktu, cita-cita dokter ini pun menguap, kenapa? Karena gue takut jarum suntik. Asli, gue bukan orang yang berani saat berhadapan sama jarum suntik, biarpun ga penakut-penakut amat sih, tapi rasanya ngeri aja. Oh God, gue membuka aib gue di sini. Gak apa-apa lah…

Lalu waktu mulai belajar tentang benda langit di sekolah, gue pengen jadi astronomer. Gue emang sampe sekarang masih sangat excited tentang benda-benda langit. Bagaimana melihat planet berevolusi pada orbitnya, gaya grativasi yang mengatur semuanya sehingga teratur, dan bagaimana kita bisa mengetahui galaksi-galaksi lain di luar tata surya kita, it’s amazing! Mungkin kalo gue bisa ke luar angkasa (jadi astronaut) and melihat semuanya itu, gue bakal amat sangat amazed. Tapi itu hancur begitu saja begitu bokap gue bilang, “mau makan apa lu ntar, di negara ini jadi astronomer?” Kalo bisa gue jawab, gue jawab “mau makan ini nih…”

Good bye cita-cita jadi astronomer dan astronaut, selamat datang cita-cita jadi arsitek. Oh yeah. Gue punya satu sepupu yang sejak kecil pinter banget. Baik itu belajarnya maupun main game-nya. Di angkatannya, dia wisudawan terbaik ke-dua se UNPAR. Sudah tentu dia menjadi panutan sepupu-sepupu lainnya di keluarga. Ok. Gue tidak jarang dibanding-bandingkan dengan dia. Jadi gue termotivasi juga buat bisa jadi seperti itu. Dan karena bidang yang dia tekuni adalah arsitektur, maka gue mau ga mau juga ter-brainwash dengan arsitektur. Gue suka gambar, dan arsitek kan kerjanya gambar. Ok, lupakan, itu hanyalah efek brainwash semata.

Yap, lalu muncul dari mana IT gue sekarang ini? Ini muncul dari seorang teman yang ngajakin ikut test USM di BiNus. Gue gak tau apa itu IT, yang pasti orang bilang harus bisa matematika (pandangan keliru). Gue emang suka matematika, tapi ternyata begitu masuk, yang ada matematika-nya cuma mata kuliah kalkulus, statistika, dan aljabar linear. Sisanya logika dan juga bisnis. Okay, gue gak suck di kuliah, masih dalam kelas menengah, gak atas juga, tapi pernah ngerasain jadi  salah satu IPS nyaris 4. But then, akhirnya profesi ini yang gue jalani.

Waktu awal-awal kerja, sempat ketemu kakak kelas dulu waktu SMP-SMA, ngasih tau ke gue “Lex, kerja itu jangan terlalu naif, jangan terlalu idealis, apa yang lu ambil waktu kuliah harus jadi kerjaan lu. Gak harus gitu kok, cari yang lain!” Oke, waktu itu gue anggapnya: ini orang kok sotoy bener ya? Hahahahaha… Ternyata perkataan itu masih terpikir oleh gue sampe sekarang. Apalagi ngeliat orang ternyata kalo kerja ga selalu ditempatkan di divisi yang sama terus menerus, bahkan bisa aja dirotasi ke divisi lain yang ga ada kaitannya sekalipun.

25 tahun usia gue, dimulai hari Senin lalu. Orang bilang, 25 itu bakal ngalamin quarter life crisis. Biarpun gue anggap gue gak terlalu ngalamin itu, dan gue sempat bilang yang kebanyakan ngalamin itu adalah wanita, tapi ternyata ada aja sih yang kepikiran. Angka emang ga bisa bohong. Waktu gue tinggal sedikit, buat menentukan sebenernya ini atau bukan sih yang mau gue jalanin. Gue juga gak tau apa terlambat atau belum untuk bener-bener beralih halauan, 180 derajat? Mungkin. Tapi juga masih belum tau alternatif apa saja selain yang gue geluti sekarang ini yang bisa gue coba. Dan gue juga gak bilang gue akan coba sesuatu yang baru, bisa aja gue melanjutkan apa yang udah gue upayakan sampe saat ini. Yup gue tau waktu gue gak banyak lagi, sebentar lagi 25 ini akan bertambah satu lagi, dan satu lagi, dan lagi. Mudah-mudahan gue gak tetap di posisi ini untuk waktu yang lama sampai gue menyadari bahwa gue udah terlambat.

My birthday wishes, saat ini ada tiga: yang pertama adalah kelompok paduan suara gue bisa juara di kompetisi nanti. Yang kedua adalah kesembuhan dari oma gue yang masih terbaring sakit di rumah sakit. Dan yang terakhir adalah kesempatan dan juga petunjuk dari Tuhan buat karir dan profesi gue, semoga bisa sesuai dengan passion gue dan kehendak-Nya.

Doakan ya!

Regards,
Xander™

Who is your God?


Judul kali ini agak extreme, terkesan provokatif, ataupun berbau SARA. Tapi bukan itu maksudnya. Gak ada maksud gue nulis ini untuk memprovokasi ataupun mempertentangkan kepercayaan setiap orang, jadi jangan salah paham dulu ya. Tulisan kali ini cuma jeritan hati dari seorang pemuda berusia tanggung (tanggung udah ampir bangkot) yang merasa terusik dengan konflik-konflik yang dialami belakangan ini. Semua yang ada di sini murni merupakan pikiran gue sendiri, dan gue gak mewakili kelompok ataupun organisasi apapun, hanya permenungan gue sendiri. Semoga tulisan gue ini bisa jadi renungan buat semuanya, harapannya sih mengakhiri konflik, sukur-sukur bisa jadi harmonis… Hope so!

Agama adalah suatu sarana untuk lebih mengenal sang pencipta, untuk lebih mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Setiap agama menganggap ajarannya yang terbaik. Itu tidak salah, toh jangankan agama, partai politik aja menganggap partainya masing-masing adalah yang terbaik, sekecil apapun itu. Jadi, kalau urusannya sama kepercayaan yang anggotanya bukan cuma ratusan ribu tapi udah jutaan bahkan ratusan juta atau milyaran, kenapa itu tidak bisa terjadi?

Lalu gue berpikir, sebenernya agama itu untuk apa sih? Seakan-akan sekarang setiap agama berlomba untuk menarik jemaat atau pengikut, dilatar belakangi oleh tujuan mulia yakni ‘menyelamatkan’ orang yang akhirnya join ke agama mereka. Mungkin memang idealnya seperti itu, tapi sekarang malah terkesan jago-jagoan, lebih banyak orang lebih keren, lebih berpengaruh, lebih berkuasa, bisa ‘ngejek-ngejek’ yang minoritas, dan seterusnya. Minoritas di sini tergantung tempatnya, toh di tiap daerah juga ada yang mayoritas dan minoritas, dan itu selalu berbeda-beda.

Awal dan akhir, ujung dan pangkal dari agama itu kan sebenarnya seharusnya cuma satu: Tuhan. Jadi pertanyaan yang gue jadiin judul bisa gue angkat lagi di sini: Who is your God?
Pertanyaan yang menurut gue tidak pantas, amat sangat tidak pantas untuk ditanyakan. First of all, Tuhan itu maha segalanya. Gak ada satu kepercayaan ataupun agama manapun, yang mengingkari ini, CMIIW. Di kitab suci, tertulis bahwa Tuhan itu baik, pengasih, penyayang, pengampun, sabar, setia, dan lain-lain. Tuhan juga pernah murka, marah, kecewa. Jika Tuhan itu maha segalanya, maka di samping maha-baik dan maha-yang-baik-baik, Tuhan juga bisa jadi maha-pemarah, maha-pencemburu, dan maha-jahat! Tuhan adalah segalanya kan? Nah dari pemikiran seperti ini, gue menganggap, sebenernya Tuhan itu gak bisa didefinisikan se-sempit itu oleh kata-kata yang kita kenal selama ini, oleh bahasa dan logika yang kita miliki saat ini. Karena apabila seperti itu, kita akan kembali ke paradoks-paradoks seperti di atas.

Lalu apa gunanya kitab suci, apa gunanya membacanya, apa gunanya mendengarkannya ketika kita beribadat? Toh juga sebenarnya tidak merepresentasikan Tuhan seutuhnya! Di sini merupakan pentingnya agama. Agama asal katanya dari ‘a’ yang artinya tidak, dan ‘gama’ yang artinya kacau. Tujuan dari agama = tidak kacau balau. Dalam setiap agama ada kitab sucinya. Dalam kitab suci itu dituliskan bahwa yang Tuhan inginkan itu semua hal yang baik, semua hal yang teratur, semua hal yang harmonis. Agama difungsikan sebagai sarana, sekali lagi sarana, supaya kehidupan manusia ini harmonis, teratur, baik adanya. Agama seharusnya tidak punya kepentingan lain such as politik, moneter, apalagi banyak-banyakan pengikut. Konyol! Agama diharapkan bisa memagari manusia agar beraktifitas sesuai koridor-koridor yang ditentukan, yang diharapkan membawa harmoni dan kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Bicara tentang hal baik, gue pikir sekarang kata baik pun sudah bias. Baik buat gue bukan berarti baik buat semua orang kan? Baik menurut salah satu agama bukan berarti baik menurut agama lainnya. Bisa kita lihat konflik-konflik yang terjadi karena kepercayaan, yang paling besar tentu Israel-Palestina, meskipun menurut gue itu bukan lagi konflik kepercayaan tapi sudah jadi konflik nasional, politis, dan juga kepentingan moneter. Baik itu sendiri berasal dari Tuhan yang maha-baik, jadi baik itu sudah tentu bukan manusia yang mendefinisikannya. Baik seharusnya universal, bukan baik menurut Kristen, baik menurut Islam, baik menurut Buddha, dan seterusnya, bukan itu, bukan! Baik ya…. baik! Titik. Tidak ada perdebatan seharusnya. Kalau masih ada perdebatan baik menurut pihak satu tidak baik menurut pihak lain, berarti itu belum sepenuhnya baik. Belum merepresentasikan baik-nya Tuhan. Sekali lagi, Tuhan kan maha-segalanya. Baik yang berasal dari Tuhan seharusnya dalam segala aspek. Tidak ter-kotak-kotak seperti sekarang ini.

Jadi gue sekarang malah heran, karena agama manusia bisa saling tuduh, saling memaki, saling menghina. Karena agama, manusia bisa saling menyikut, memukul, bahkan saling bunuh. Oke, ajaran itu memang memagari manusia. Tapi pagar itu kan gunanya untuk supaya manusia gak kacau balau, terstruktur, dan harmonis. Harmonis di sini harmonis yang universal seperti Tuhan yang universal, bukan harmonis menurut agama tertentu, atau harmonis menurut kelompok tertentu, seperti yang udah gue kemukakan tadi. Jadi pagar ini menurut gue seharusnya adalah pagar yang fleksibel, selama hubungan dengan sesama bisa benar-benar harmonis, maka pagar itu berfungsi, bukan pagar yang kaku dan keras yang malah mengkotak-kotak-an manusia seperti sekarang ini.

Ada satu hal yang cukup aneh dan lucu sebenarnya dari manusia. Manusia itu ingin berbeda dari yang lain, tampil beda, unik. Padahal, seperti yang kita semua tau, setiap orang dilahirkan berbeda. Tidak ada satu orang pun di dunia yang sama ‘plek’ satu sama lainnya. Selalu ada perbedaan, dan itu membuat semua orang dilahirkan unik. Tanpa berusaha berlebihan pun, Tuhan sudah membuat kita unik adanya. Tinggal bagaimana kita menerima perbedaan itu semua menjadi semua harmoni yang mengagumkan. Yang lucu adalah, everyone wants to be different. Tapi begitu ada orang yang memilih sesuatu yang beda, selalu ada celaan. Orang yang memilih agama yang beda dari beberapa orang, dianggap dosa. Jadi sebenernya manusia itu maunya apa yah?

Gue beragama. Agama gue Katholik. Tapi gue ga beranggapan bahwa agama gue yang terbaik. Aneh? Menurut gue enggak, karena beragama bukan melulu fanatisme. Gue fanatik, tapi juga enggak buta. Iman gue? Gue menganggap agama tidak berhubungan langsung dengan iman. Iman itu personal, antara gue sama Tuhan. Agama hanyalah pendukung buat gue mengembangkan iman gue. Gue juga bukan orang yang terlalu religius. Beribadat seperti orang-orang Katholik lainnya yang setiap minggu ke gereja, kalo males juga ga ke gereja. Gue orang yang juga berdosa, sering berpikiran kotor, sering mengganggu orang lain, sering menyakiti orang lain baik sadar ataupun gak sadar. Jadi agama merupakan hal yang penting buat gue sebagai pengingat bahwa gue manusia pendosa yang gak bisa hidup sendiri. Gak bisa hidup sendiri. Oleh karena itu, gue harap agama bisa bawa harmoni buat kita semua. Bukan pembawa perpecahan.

Kembali lagi, who is your God? Pertanyaan ini seharusnya diakhiri di sini saja, karena udah tidak relevan sama sekali. Tuhan itu maha besar yang tidak dapat kita kotak-kotak-an dengan pikiran kita yang kecil. Agama manapun, kepercayaan manapun, tidak masalah Tuhannya disebut apa, dalam bentuk apa, dan menyebarkan agama apapun, yang penting kita tau bahwa kita itu bukan apa-apa di hadapan-Nya. Bahwa kita hanya bisa berharap akan diselamatkan. Bahwa kita hanya berharap kita bisa bahagia, bahwa kita hanya berharap dan berharap akan sesuatu yang baik yang kita percayai berasal dari-Nya. Sarananya? Agama. Jadi, beragama apapun kita, gue harap, harmoni dan kebaikan bisa terjadi di antara kita semua, tanpa sama sekali menyinggung kepercayaan dan tata-cara yang kita pegang dan kita anut dalam agama kita masing-masing. Isn’t that nice?

Have a great weekend, God bless us everyone.

Regards,
Xander™

Soccer for a better World


Belakangan ini, gue liat nasionalisme masyarakat Indonesia sekali lagi dibangkitkan, bukan oleh para pejabat, bukan oleh para tentara, bukan oleh para pegawai negeri dan juga oleh pengusaha, tapi oleh 11 orang (plus-plus) di lapangan hijau. Timnas Indonesia, alias Garuda. Mereka sanggup membangkitkan semangat nasionalisme kita secara cukup signifikan, contohnya saja, waktu mereka bertanding, jalanan di Jakarta sepi, karena kebanyakan orang nonton timnas lewat tv ataupun nonton bareng di tempat-tempat tertentu, selain tentunya yang rela antri berjam-jam dan berhari-hari buat dapet tiket nonton langsung di Gelora Bung Karno, Senayan. Sungguh rasanya keinget lagi akan masa-masa jaya perbulutangkisan Indonesia, waktu jaman Susi Susanti dan Alan Budikusuma menang medali emas Olympic di Barcelona dulu. Waktu itu, ampir setiap rumah nonton perjuangan atlet-atlet bulutangkis kita di tv. It feels great!

Tapi herannya, ada aja yang mengganggu suasana kondusif seperti ini. Ketika sepakbola mulai menggantikan bulutangkis sebagai olahraga yang paling digemari di negara kita, dan udah terbukti bisa menjadi alat pemersatu bangsa yang cukup efektif, ada saja yang masih mempermasalahkan simbol burung garuda yang disematkan di dada kaos timnas yang dikenakan tiap pemain. Alasannya konon adalah tidak hormat untuk menggunakan lambang kebesaran negara untuk kaos yang mungkin bisa sobek, ataupun kotor terkena tanah di lapangan. Oh God, bukankah lambang itu tujuannya pemersatu bangsa? Jadi ketika lambang itu akhirnya dapat menyumbangkan kegunaannya yang utama yakni pemersatu bangsa, kenapa dilarang?

Demikian juga dengan lembaga tertinggi pelindung sepakbola Indonesia, PSSI. Ketua PSSI sekarang adalah mantan narapidana. Itu sudah ditentang oleh banyak sekali orang di negara kita. Ketika timnas kita dipuji setinggi langit, menginspirasi semua orang di negeri kita ini, PSSI justru dicaci maki, ketuanya disuruh mundur. Dan apa yang diperbuat beliau? Tetap bertahan di posisinya. Dan ketika ada pengusaha-pengusaha yang mau membiayai suatu liga yang mandiri tanpa dibiayai pemerintah, LPI (Liga Primer Indonesia), PSSI malah menentang dan mengancam. Bukankah ada liga tandingan itu bagus? Masyarakat pun dapat memilih dan melihat sendiri, mana yang lebih bagus. Tidak usah takut liga-nya PSSI (ISL – Indonesian Super League) akan hancur, kalau memang peminatnya masih tetap banyak, maka liga itu akan tetap berjalan. Dan kekonyolan ini berlanjut. Pemain yang bermain di LPI tidak boleh memperkuat timnas Indonesia. Oh God, apa lagi ini, kebebasan dan kesempatan untuk kembali berjuang untuk negara malah dikekang oleh aparatur negara itu sendiri? Apa kata dunia???

Belakangan beredar kontroversi lagi, yakni tentang surat yang dilayangkan oleh FIFA – badan sepakbola dunia, untuk PSSI, yang isinya adalah mencekal LPI. Konon katanya, surat dari FIFA itu akal-akalan dari PSSI aja, alias surat itu palsu. Kontroversi itu dibahas di sini, terlepas dari benar atau tidaknya ya. Namun kalo itu benar terbukti palsu, yah mereka sendiri yang menanggung akibatnya. Toh LPI sendiri menyatakan tidak takut akan ancaman dari PSSI ataupun FIFA, karena mereka merasa mereka benar dan tidak melanggar aturan. Yah, setidaknya kita sebagai masyarakat juga sudah dewasa, bisa menilai mana yang bagus dan mana yang buruk.

Poin dari postingan gue kali ini adalah, ketika semangat dan kesempatan perubahan ke arah yang lebih baik itu ada, mengapa selalu ada yang menghalangi? Ini merupakan hal yang menggelitik pikiran gue. Hal ini bukan hanya terjadi dalam sepakbola aja, dalam hal ini adalah sepakbola sebagai pemersatu bangsa, ini cuma satu contoh yang belakangan ini mencuat. Hal ini sebenernya terjadi hampir di seluruh aspek kehidupan kita. Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik, mengapa tidak kita gunakan? Berarti sebenarnya ketika kesempatan itu datang, kita semua adalah manusia yang bebas. Bebas dalam arti kita bebas buat memilih, mau jadi apa kita? Mau jadi lebih baik? Mau jadi tetap seperti sekarang? Atau malah mau jadi lebih buruk? Terkadang kita juga terkekang oleh status dan kebanggaan diri yang berlebihan, seperti contohnya PSSI yang menurut gue terlalu bangga akan statusnya sebagai induk olahraga sepakbola se-Indonesia. Mengapa? Karena kita menjadi buta, menjadi egois, dan tidak melihat hal-hal lain yang baik, bahkan lebih baik, yang timbul dan menjadi pilihan kita. Tuhan memberikan kebebasan sebebas-bebasnya bagi kita untuk memilih, so we got to make a good choice, shouldn’t we?

Postingan gue kali ini sukur-sukur menjadi kritikan membangun buat PSSI (kalo postingan gue ini dibaca), dan juga sebagai cerminan buat diri gue sendiri, apakah gue juga udah berani membuka diri terhadap kesempatan-kesempatan yang muncul, terhadap masukan dan juga pilihan yang mungkin lebih baik dari yang ada sekarang ini. We are having our own comfort zone. Kalo kita ga berani melepaskan itu semua, maka kita akan jadi buta. Mudah-mudahan gue sendiri juga bisa seperti yang gue harapkan dari postingan kali ini, dan mudah-mudahan, dengan perubahan ke arah yang lebih baik dari masing-masing individu, we are going to make our world a better one. I hope.

Regards,
Xander™

2011


Sebagai post pertama, gue mau ngucapin terima kasih kepada Tuhan YME, kepada kedua orang tua yang selalu mendukung, saudara dan family yg salalu ada saat dibutuhkan, teman-teman dan sahabat yang membantu gue untuk mencapai semua ini…. sekali lagi, terima kasih… *plak plok plak plok….*

PS: yang plak plok itu bukan tepuk tangan, tapi tabokan dan tamparan supaya gue bangun…

Ehm… maklum, masih terbawa aura-aura libur yang ‘mengharuskan’ gue untuk bangun agak siang, jadilah mimpi-mimpi tersebut masih terbawa hingga ke tulisan ini. Yeah, ini blogging pertama gue di tahun 2011 dan juga pertama di blog baru ini, dan juga mengakhiri penantian akan tulisan-tulisan gue… *emang ada yg nungguin yah?* Jadi karena awal taun, blog baru, tulisan baru, kerjaan baru *errr yg ini dilewat dulu*, semangat baru dan juga harapan baru tentunya… maka akan gue awali dengan ucapan Selamat Tahun Baru 2011 bagi yang merayakan… lhoh?!?!?!! kok bagi yang merayakan? maksudnya ya kalo ga ngerayain ya udah, kalo ngerayain ya bagus… sepertinya jg semuanya ngerayain kok 🙂

Hufff… soal kerjaan baru yang dicoret di atas tadi, yah, mulai awal Januari ini, gue udah pindah tempat kerja, bukan tempat doank yang pindah, tapi juga bos gue yang ganti, bukan cuma bos gue yang ganti, tapi juga bos-bosnya bos gue yang ganti, halah… intinya gue resign dari kantor yg lama dan masuk ke kantor yang baru. Tahun baru ~ kerjaan baru. Seems to be promising, but then, semua harus dijalani dulu. Tidak berharap muluk-muluk, tidak juga hopeless, namun semua dijalani dengan semangat. Mudah-mudahan akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. We all hope and strife for excellent right? Jadi gue mohon doanya dari semua, supaya gue bisa cocok dan berkembang di sini, di tempat baru gue…

Taun baru itu ga jauh-jauh dari refleksi akan taun sebelumnya dan resolusi di taun yang baru. Yaaah yaaah… refleksi gue buat 2010 apa ya? Hmmm buat gue, 2010 itu boleh dibilang merupakan taun yang paling luar biasa. Banyak sekali hal-hal baru yang gue alami dan gue dapatkan di 2010. Mulai dari kembalinya si kambing jadi jomblowan, terus perjalanan ke luar pulau beberapa kali untuk urusan kerjaan, juga bergabungnya gue di sebuah komunitas yang menurut gue sangat luar biasa (Voxers, you are awesome, if you read this :P), dan juga pengalaman-pengalaman menarik lainnya yang priceless dan tidak tergantikan, yang diakhiri dengan sebuah keputusan besar dalam hidup gue, yaitu pindah tempat kerja, di akhir tahun 2010. Sungguh merupakan sebuah taun yang luar biasa. Jadi balik lagi ke refleksi, gue mendapatkan sesuatu yang sangat berharga di situ, yang apabila disimpulkan dalam sebuah kalimat, menjadi seperti ini: “Hidup itu seimbang, bagaimanapun manusia mencoba merusaknya, keseimbangan itu tetap ada.” Jadi memang Tuhan sudah memberikan sesuatu itu seimbang dan adil. Manusia yang serakah memang sering berusaha mengacaukan itu, namun bagaimanapun caranya, tetap akhirnya keseimbangan itu yang muncul. Jadi sebenarnya, kita sebagai manusia hanya cukup bekerja keras sesuai kemampuan, mengembangkan diri dan memiliki harapan sesuai pikiran kita, namun pada akhirnya hasilnya Tuhan yang menentukan. That is my 2010’s reflection.

Resolusi. Buat 2011 ini, gue juga ga mau muluk-muluk, gue mau apa yang sudah jadi refleksi di taun sebelumnya, menjadi landasan gue buat berusaha di taun ini. Yang prioritas tentu adalah pekerjaan yang baru dijalani. Gue mau membuktikan diri di sini, mau menantang diri sendiri sampai di mana gue bisa. Yeah, mungkin pencapaian gue juga gak sehebat dan se-wah orang lain, tapi apa yang gue anggap kesuksesan itu bukan dibandingkan dengan orang lain. Sukses adalah ketika kita merasa kita telah mencapai sesuatu, di mana tadinya baru merupakan impian dan bayangan, namun sekarang kita sudah bisa melewatinya. Itulah sukses buat gue. So, dengan landasan seperti itu, gue mau mencapai sukses-sukses lainnya di taun 2011 ini, doain ya!

And for the closing part, semangat di 2011, semoga sukses untuk semua, God bless 🙂

Regards,
Xander™