What Flood Taught Us, Jakartans?


Flood in Bundaran HI Jakarta - 2013 Jan 17
Flood in Bundaran HI Jakarta – 2013 Jan 17, taken from Facebook Page of The Jakarta Globe

Gue bukannya mau ikut-ikutan trend masa kini di Jakarta, yang memberitakan banjir seperti semua orang di social media, dan juga semua saluran televisi dan radio, tapi emang ada beberapa point yang menggelitik yang gue alami sebagai “warga Jakarta” yang juga terkena efek dari banjir beberapa hari ini, walaupun masih dikategorikan sebagai orang beruntung yang bisa dapat listrik dan juga tidak kena genangan air.

Jadi seperti yang kita semua tau, dua hari belakangan Jakarta udah kayak kota mati. Kantor pada libur, ataupun karyawannya meliburkan diri. Sama saja, toh semua juga merasa susah. Intinya, banjir kali ini secara keseluruhan merugikan hampir seluruh warga Jakarta, dengan korban jiwa yang juga tidak sedikit, apalagi korban materiil yang sudah tidak terhitung jumlahnya. Di tengah kesedihan, keprihatinan, dan juga kepedihan yang kita alami, mari kita melihat beberapa point yang bisa kita gunakan buat evaluasi dari peristiwa bencana banjir ini.

Yang pertama yang gue dapatkan adalah: Jangan terlalu mudah menghakimi sesuatu. Kemarin kebetulan gue mendapat kesempatan buat ikutan bantu-bantu posko banjir di gereja gue. Pastor parokinya, Romo Heri, sejak pagi sudah berkeliling bersama seorang pastor lainnya dengan sebuah sepeda motor, untuk memantau situasi warganya yang terkena banjir. Siangnya, beliau bercerita sebuah renungan yang cukup menghentak buat gue. Begini ceritanya: “Terkadang sesuatu yang kita anggap tidak penting, bahkan kita hindari setiap harinya, bisa jadi dewa penolong yang sangat kita harapkan saat kita kesusahan”. “Contoh paling nyata: gerobak sampah”. “Setiap hari kita menghindari gerobak bau itu, namun coba kita lihat sekarang, orang berebut untuk naik gerobak itu melewati genangan air, bahkan berani membayar!”. Betul juga ya, kalau gue naik motor pun gak mau dekat-dekat gerobak sampah, bau! Tapi kenyataannya sekarang si gerobak bau itu sangat dibutuhkan lho! Hal ini bisa menjadi bahan renungan buat kita, apakah kita juga menjadi hakim yang buruk buat orang-orang di sekitar kita? Apakah kita juga sering menghakimi orang terlalu cepat? Apakah sebenarnya kita layak menghakimi orang sementara kita tidak melihat diri kita sendiri?

Yang kedua adalah soal kepedulian. Gue melihat di posko yang terdekat dengan gue, yakni di posko gereja gue sendiri, ternyata orang-orang cepat tanggap ya dalam hal bantuan buat orang-orang lain yang membutuhkan. Gue salut lho! Bahkan orang-orang tajir yang gue tau, ternyata cukup peduli dengan datang langsung ke posko dengan bantuan yang mereka bawa. Luar biasa! Di saat anggapan orang-orang kebanyakan terhadap para orang kaya sangat buruk sekarang ini, ternyata masih banyak yang peduli, masih banyak yang tanpa pikir panjang langsung membantu, tanpa diminta namanya dicantumkan di koran, ataupun diliput televisi. Ternyata kemanusiaan di kota megapolitan ini masih ada…

Yang ketiga ini lebih kepada sebuah kritik. Berdasarkan pantauan mata beberapa orang yang terjun langsung ke lokasi banjir yang termasuk parah, banyak sampah berserakan dan terbawa genangan air, dari sampah makanan, sampah plastik, sampai bangkai-bangkai tikus atau kucing, dan berbagai ‘benda’ lain yang rasanya sudah keterlaluan joroknya. Ini menunjukkan apa? Warga Jakarta itu JOROK bukan main. Kira-kira dua atau tiga minggu lalu, gue melihat sendiri apa yang diberikan orang tua-orang tua bagi sebagian besar anak di Indonesia tentang kebersihan umum. Hasilnya, NOL BESAR. Gue menyaksikan seorang anak kecil dengan mudahnya melempar gelas plastik bekas minuman ke tengah jalan, padahal di sampingnya ada tong sampah. Yang membuat kesal? Orang tuanya ada di sampingnya dan cuek dengan perilaku anaknya, dan gue hampir yakin sebenarnya orang tuanya pun kalau buang sampah seperti itu. Bandingkan dengan cerita dari negara tetangga kita, Singapore: Ada seorang bapak dan anaknya sedang makan ice cream cone di tengah teriknya matahari siang itu. Seketika ice cream si anak jatuh ke trotoar. Sang bapak dengan sigapnya langsung mengambil cone-nya, lalu mengambil tissue dan membersihkan sisa ice cream yang ada di trotoar sampai bersih! Luar biasa! Apabila terjadi di Jakarta? Sudah hampir pasti ditinggal begitu saja. Jadi kalau masyarakat masih pada protes ke pemerintah Jakarta yang baru saja duduk 3 bulan ini, gue rasa salah alamat. Coba liat dulu masing-masing, sudahkah anda membuang sampah pada tempatnya?

Yang terakhir adalah persatuan. Dengan kodratnya sebagai manusia, gue liat memang perlu ada sesuatu yang mempersatukan sekelompok lebih orang. Dan sayangnya seringkali sesuatu itu adalah peristiwa buruk seperti bencana banjir ini. Di saat bencana seperti ini, tidak penting lagi apakah orang itu adalah orang Batak, Jawa, Betawi, Tionghoa, dan sebagainya. Tidak penting lagi apakah orang itu orang Islam, Katolik, Buddha, tetapi yang penting adalah orang itu butuh pertolongan, ya ditolong! Sungguh sebenarnya gue pengen liat hal ini tidak terjadi ketika kita sedang mengalami musibah saja, seharusnya hal ini terjadi setiap hari!

Intinya, semoga banjir ini gak cuma membawa kepedihan semata, tetapi juga menjadi pelajaran bagi kita semua. Gak sekedar pelajaran, tapi juga menjadi titik perubahan buat masing-masing dari kita khususnya warga Jakarta, sehingga apabila hal ini pun masih sampai terjadi lagi, tidak menyalahkan satu sama lain, melainkan mencoba membangun lingkungannya, membangun kota-nya, sehingga menjadi lebih baik. Dengan demikian, menurut gue tidak mustahil Jakarta bisa bebas banjir.

Terakhir, untuk yang mengalami bencana banjir, tetap semangat, tetap berusaha, dan tetap berdoa. This to shall pass! God be with you!

Regards,
Xander™

Advertisements

2 thoughts on “What Flood Taught Us, Jakartans?

  1. Pitshu says:

    bunderan HI ga akan kek gitu juga, klo ga dapet kiriman sih 🙂 hihihi~ yah g sih.. mikirnya mo gimana pun jakarta susah bebas dari banjir, klo sering dapet kiriman aer dari bogor ^^

  2. alexander.henry says:

    seperti kata temen gue baru aja, kiriman air dari bogor tuh ga salah, ujan tuh ga salah, yang salah kenapa kali di jakarta penuhnya sama sampah, jadilah banjir… dan gue setuju sama pemikiran ini… intinya tetep: warga jakarta jorok pit 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s