Amazing July With Vox Angelorum Part 1


Akhirnya ada “me time” with my pc buat cerita tentang Juli yang mengagumkan ini. Kalo gue mau rank dari Juli-Juli sebelumnya, gue rasa Juli taun ini yang paling luar biasa. Satu topik yang mau gue ceritain keseluruhannya berkisah tentang gue dengan kelompok paduan suara di mana gue tergabung di dalamnya, Vox Angelorum Choir. Kemungkinan cerita ini akan gue buat beberapa part supaya ga kepanjangan bacanya, so sit back, relax, and enjoy my story 🙂

Gue mulai dengan awal gue tau ada choir bernama Vox Angelorum. Saat itu taun 2004, begitu gue masuk kuliah di BiNus, diajakin ke gereja sama temen di MBK, jaraknya deket banget sama kampus, jadilah gue misa setiap minggu di MBK. Nah, karena gue orang baru di sana, biasanya cuma ikut misa dan kemudian pulang. Kegiatan itu berlangsung terus, tanpa pernah terlibat kegiatan apapun. Kira-kira 2 taun setelahnya, 2006, ada pengumuman minta doa waktu misa untuk Vox Angelorum Choir yang berkompetisi di Xiamen, China. Gue pikir, “hebat banget ini kompetisinya jauh gitu, jadi penasaran choirnya kayak gimana”. Dan kemudian ada pengumuman lagi mereka meraih Gold Medal di sana, tambah penasaranlah gue, yang belom pernah bener-bener ikutan yang namanya choir kecuali waktu jaman sekolah dan itu pun disuruh sama guru agama, ahahahaha…

Setelahnya, tepatnya kapan gue gak inget lagi, gue menyaksikan Vox Angelorum tugas misa di gereja, dan ternyata memang bagus! Sejak itu, gue selalu excited kalo yang tugas misa kebetulan Vox Angelorum, soalnya jadi menikmati misa karena lagu yang dibawain bagus-bagus dan suara mereka pun mantap. Dan sadar gak sadar, kalo misa besar seperti Natal dan Paskah, gue selalu berharap yg tugas Vox, dan kebetulan memang Vox biasanya dapat tugas misa yang malam, yang memang jamnya gue misa. Kalo mau dibilang gue nyari misa yang ada Vox-nya sebenernya bisa, tapi kebanyakan sih pas memang jam-nya 😛

Seiring waktu, gue sempat mikir, bisa gak yah gue gabung sama choir yang segini bagusnya, pengalaman nyanyi beneran ga ada sih, baca not balok apalagi, nyerah! Dan waktu itu konon harus bisa baca not balok buat audisi masuknya. Dan itu pun tinggalah sekelumit pemikiran semata. Gak pernah kepikiran untuk bisa join, apalagi liat yang nyanyi udah hebat-hebat seperti itu. “Cuma jadi penonton aja deh”, pikir gue waktu itu.

Sampailah taun 2010, di mana dari 2006 sampai 2010 gue tetep ga ikut kegiatan apa-apa di gereja, mengingat dulu sewaktu masih sekolah di Tasikmalaya, gue aktif di putra altar, juga mudika, orang-orang yang kenal gue jadi aneh kenapa sejak kuliah gue sama sekali berbeda, gak pernah aktif dalam kegiatan-kegiatan semacam itu. Yah gue juga ga ngerti sih, tapi yang pasti waktu itu ga ada niat ataupun keinginan buat aktif, hehehe…

Eh iya jadi curcol masa kecil, lanjut deh lanjut, jadi 2010 itu, ada temen kantor gue yang ternyata gue baru tau dia udah setaun-an tergabung di Vox Angelorum, dan setelah gue tau itu, jadilah gue orang paling aktif nanya-nanya sama dia tentang choirnya. Latihannya gimana, aturannya apa aja, dan ternyata temen gue itu cepat tanggap, dia tau kalo gue minat ikutan choirnya, walaupun gue gak ngomong gue mau ikutan, ya keliatan lah ya, wong nanya macem-macem gitu!

Akhirnya kira-kira bulan Mei-Juni 2010, gak ingat tepatnya kapan, gue dikasi selebaran audisi buat masuk ke Vox Angelorum. Saat itu pun gue masih bener-bener gak berpikir buat ikutan, cuma gue ambil aja selebarannya. Saat-saat terakhir pendaftaran, entah kenapa waktu gue lewat meja pendaftaran di depan gereja setelah misa, gue memutuskan buat daftar. “Yap, ga ada ruginya deh, nothing to lose”, pikir gue saat itu. Dan memang ga semulus itu. Waktu gue ditelpon bahwa hari Minggu bakalan ada audisi, gue masih tugas dinas di Palembang dan ga memungkinkan buat gue untuk ikutan audisi Minggu itu. Eh tapi ternyata ada audisi susulan! Jadi setelah gue kembali ke Jakarta, hari Kamis malam gue sempat-sempatin buat ke gereja sebentar ikutan audisi.

Audisinya gue gak tau seperti apa, dan gue juga udah lama gak liat not sama sekali, jadi boleh dibilang gue gak modal apa-apa. Audisinya di gerejanya ternyata, dan setiap orang yang daftar dikasih dua lembar kertas, yang pertama not balok, yang kedua not angka. Diminta buat belajar lagu itu, dan tanpa pikir panjang gue lewat lembaran pertama. Huahahahaha… not balok! Nyerah! Mau gue terjemahin pun udah lupa caranya. Ok, another sign bahwa gue sepertinya emang cuma numpang lewat di audisinya. Seperti target pertama, yang adalah ga ada target, nothing to lose, gue duduk dan belajar not angka.

Saat itu di sebelah gue ada satu pendaftar lain, dan gue sempat ngobrol sama dia. Gue nanya, “Bisa yang not balok gak? Gue lewat nih…” dan jawaban dia,”Sama donk, gak bisa gue juga.” Dan dia ternyata penipu. Dia pinjam bolpoint ke panitia audisi dan kemudian dia belajar not baloknya. Damn! Sebelah gue aja bisa not balok, gue bahkan tanpa pikir panjang gue lewat aja itu lembaran. Udah lah, no hope!

Akhirnya gue dapet giliran interview. Yang interview waktu itu dua orang, dan pertanyaan pertama mereka adalah: “kok ikutan audisi Vox?”. Dan jawaban gue adalah jawaban paling ababil yang gue bisa pikirkan: “Karena Vox menurut gue kalo nyanyi keren.” Ok, that’s not a brilliant answer, I know. Dan kemudian interviewnya beralih ke pengalaman gue choir, yang gue jawab bahwa gue pernah ikut choir sekolah tapi juga namanya sekolah di daerah, seadanya, gak pernah dikasi tau gimana cara nyanyi yang bener dan sebagainya. The one thing I know is, I love to sing!

Setelah itu gue maju ke depan buat tes lagu yang tadi dikasih, yang lembaran pertamanya gue lewat itu lho. Yang ngetes ada dua orang juga, kalo yang tadi cowok semua, yang ini cewek semua. Nah waktu itu gue apply buat jadi bass, karena dulu gue sempat jadi bass. Begitu cek range nada, karena gue bass, maka semakin lama nada dasarnya semakin turun, dan baru turun sedikit, suara gue abis… errr… what? Akhirnya coba range atas, dan gue bisa lebih jauh daripada yang turun. Ok, ini udah malu-maluin, daftar bass tapi suara rendah dikit udah abis? Yeah, dari awal emang gak berharap banyak kok. Akhirnya selesai juga audisinya, dan gue pulang dengan pikiran gak bakalan masuk.

Gue lupa tepatnya hari apa, gue ditelpon oleh yang meng-interview gue waktu audisi, dan dia ngasih tau bahwa gue diterima masuk Vox Angelorum. Dan reaksi gue waktu itu cuma, “Oh ya? Ok.” Yep, pria dingin, gue tau. Dan sebenernya gue agak gak percaya, bukan tujuan gue jadi pria dingin sebetulnya. Haaa? Kok bisa gue masuk? Dan gue seneng. Hahahahahaha… Sesuai dugaan, gue gak jadi masuk bass, gue masuk tenor 2, yang waktu itu quotanya paling banyak, dan paling rusuh.

Begitu masuk, gue gak langsung ikutan latihan bersama team yang lain, karena anak baru harus ada pengenalan terlebih dahulu, tujuannya supaya gak mengganggu persiapan untuk tugas yang udah deket waktu itu, karena udah pasti gue akan gerecokin mereka dengan tanya ini itu, dan itu akan menghambat persiapan yang udah berjalan tentunya. Jadilah kira-kira 4 pertemuan  pertama dijalanin dengan pengenalan cara latihan di sana, dan juga dengan acara beli buku Puji Syukur 4 suara dan map seragam.

Anggapan gue tentang anak choir sebelumnya adalah serius, geek, diem-diem. Ternyata itu anggapan anak dari kampung yang baru pernah nonton Sister Act dan ga tau yang lain. Anak choir itu gila-gila juga ternyata, gak tau choir ini doank atau semuanya gitu, tapi yang pasti temen-temen gue di Vox ternyata tukang becanda dan asik-asik! Apalagi di awal-awal gue masuk ada acara weekend ke Pratista, Bandung, yang ternyata adalah acara rutin tahunan setelah recruitment. Di sana bener-bener jadi tau bahwa temen-temen choir tuh orangnya penuh becandaan tapi juga serius kalo latihan. This is a whole new world for me *jadi kayak Alladin*. But I enjoyed it.

Demikian akhirnya gue ikutan tugas-tugas bareng Vox Angelorum, sempat juga ikutan konser bareng The Indonesian Choir-nya mas Jay Wijayanto, dan konser amal Natal 2010 bareng Hudson (itu lho yang sebelah cewek sebelah cowok). Kebetulan dari akhir tahun lalu, ada rencana untuk ikutan lomba karena udah terlalu lama vakum, yang tujuannya menambah semangat setiap anggotanya buat berkarya lebih baik lagi. Dan lomba itulah yang sebenernya mau gue ceritain. Epiloguenya kepanjangan yah ini? Hahahaha… gak apa-apa, nanti part kedua gue ceritain tentang persiapan lomba dan lombanya…

Jadi demikian part pertama, ditunggu yah part keduanya… (buat yang baca ini dan mirip seperti curcolnya pelatih Vox, ini bukan mau ngikut-ngikut, tapi emang kepanjangan :P)

Regards,
Xander™

Advertisements

2 thoughts on “Amazing July With Vox Angelorum Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s