Quarter Life


Gue gak pernah bermimpi, apalagi bercita-cita jadi seorang programmer. Dan saat ini, itulah gue. Begitulah, buat beberapa orang, cita-cita semasa kecil mungkin cuma jadi kenangan dan memori belaka, bahwa dulu gue bercita-cita jadi dokter, atau jadi astronom, dan gak pernah terlintas sedikitpun untuk menjadi programmer ataupun pekerja IT.

Dulu, waktu gue masih balita, masih seneng-senengnya ngomong karena baru bisa cerewet, setiap dibawa oleh oma keliling-keliling di sekitar rumah pagi-pagi, pasti ditanyain sama tetangga, udah gede mau jadi apa? Gue jawab gue pengen jadi pilot. Tapi sekolah di ITB. Bukan… bukan, bukan ITB yang tersohor itu, tapi dulu gue punya istilah sendiri. Karena gue dulu doyan banget sama bakso, maka dulu ITB yang gue maksud itu Institut Tukang Bakso. Jaman-jamannya lagu-nya siapa ya dulu, kalo gak salah Melisa ya, yang “abang tukang bakso… mari mari sini… aku mau beliii…”

Seiring berjalannya waktu, cita-cita pilot itu udah gue lupain. Gue pengen jadi dokter. Keliatannya dokter itu keren. Pake jas putih, bawa-bawa stetoskop, periksa dikit langsung kasi resep, terima duit banyak, dan sepertinya emang selalu dibutuhkan. Seiring waktu, cita-cita dokter ini pun menguap, kenapa? Karena gue takut jarum suntik. Asli, gue bukan orang yang berani saat berhadapan sama jarum suntik, biarpun ga penakut-penakut amat sih, tapi rasanya ngeri aja. Oh God, gue membuka aib gue di sini. Gak apa-apa lah…

Lalu waktu mulai belajar tentang benda langit di sekolah, gue pengen jadi astronomer. Gue emang sampe sekarang masih sangat excited tentang benda-benda langit. Bagaimana melihat planet berevolusi pada orbitnya, gaya grativasi yang mengatur semuanya sehingga teratur, dan bagaimana kita bisa mengetahui galaksi-galaksi lain di luar tata surya kita, it’s amazing! Mungkin kalo gue bisa ke luar angkasa (jadi astronaut) and melihat semuanya itu, gue bakal amat sangat amazed. Tapi itu hancur begitu saja begitu bokap gue bilang, “mau makan apa lu ntar, di negara ini jadi astronomer?” Kalo bisa gue jawab, gue jawab “mau makan ini nih…”

Good bye cita-cita jadi astronomer dan astronaut, selamat datang cita-cita jadi arsitek. Oh yeah. Gue punya satu sepupu yang sejak kecil pinter banget. Baik itu belajarnya maupun main game-nya. Di angkatannya, dia wisudawan terbaik ke-dua se UNPAR. Sudah tentu dia menjadi panutan sepupu-sepupu lainnya di keluarga. Ok. Gue tidak jarang dibanding-bandingkan dengan dia. Jadi gue termotivasi juga buat bisa jadi seperti itu. Dan karena bidang yang dia tekuni adalah arsitektur, maka gue mau ga mau juga ter-brainwash dengan arsitektur. Gue suka gambar, dan arsitek kan kerjanya gambar. Ok, lupakan, itu hanyalah efek brainwash semata.

Yap, lalu muncul dari mana IT gue sekarang ini? Ini muncul dari seorang teman yang ngajakin ikut test USM di BiNus. Gue gak tau apa itu IT, yang pasti orang bilang harus bisa matematika (pandangan keliru). Gue emang suka matematika, tapi ternyata begitu masuk, yang ada matematika-nya cuma mata kuliah kalkulus, statistika, dan aljabar linear. Sisanya logika dan juga bisnis. Okay, gue gak suck di kuliah, masih dalam kelas menengah, gak atas juga, tapi pernah ngerasain jadi  salah satu IPS nyaris 4. But then, akhirnya profesi ini yang gue jalani.

Waktu awal-awal kerja, sempat ketemu kakak kelas dulu waktu SMP-SMA, ngasih tau ke gue “Lex, kerja itu jangan terlalu naif, jangan terlalu idealis, apa yang lu ambil waktu kuliah harus jadi kerjaan lu. Gak harus gitu kok, cari yang lain!” Oke, waktu itu gue anggapnya: ini orang kok sotoy bener ya? Hahahahaha… Ternyata perkataan itu masih terpikir oleh gue sampe sekarang. Apalagi ngeliat orang ternyata kalo kerja ga selalu ditempatkan di divisi yang sama terus menerus, bahkan bisa aja dirotasi ke divisi lain yang ga ada kaitannya sekalipun.

25 tahun usia gue, dimulai hari Senin lalu. Orang bilang, 25 itu bakal ngalamin quarter life crisis. Biarpun gue anggap gue gak terlalu ngalamin itu, dan gue sempat bilang yang kebanyakan ngalamin itu adalah wanita, tapi ternyata ada aja sih yang kepikiran. Angka emang ga bisa bohong. Waktu gue tinggal sedikit, buat menentukan sebenernya ini atau bukan sih yang mau gue jalanin. Gue juga gak tau apa terlambat atau belum untuk bener-bener beralih halauan, 180 derajat? Mungkin. Tapi juga masih belum tau alternatif apa saja selain yang gue geluti sekarang ini yang bisa gue coba. Dan gue juga gak bilang gue akan coba sesuatu yang baru, bisa aja gue melanjutkan apa yang udah gue upayakan sampe saat ini. Yup gue tau waktu gue gak banyak lagi, sebentar lagi 25 ini akan bertambah satu lagi, dan satu lagi, dan lagi. Mudah-mudahan gue gak tetap di posisi ini untuk waktu yang lama sampai gue menyadari bahwa gue udah terlambat.

My birthday wishes, saat ini ada tiga: yang pertama adalah kelompok paduan suara gue bisa juara di kompetisi nanti. Yang kedua adalah kesembuhan dari oma gue yang masih terbaring sakit di rumah sakit. Dan yang terakhir adalah kesempatan dan juga petunjuk dari Tuhan buat karir dan profesi gue, semoga bisa sesuai dengan passion gue dan kehendak-Nya.

Doakan ya!

Regards,
Xander™

Advertisements

2 thoughts on “Quarter Life

  1. pitshu says:

    klo umur 30thn haluannya 360 derajat donk! wakakakaka… duh yang masih 25, mudah sekaliii… happy belated b’day yah~ wish u all the best ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s