Who is your God?


Judul kali ini agak extreme, terkesan provokatif, ataupun berbau SARA. Tapi bukan itu maksudnya. Gak ada maksud gue nulis ini untuk memprovokasi ataupun mempertentangkan kepercayaan setiap orang, jadi jangan salah paham dulu ya. Tulisan kali ini cuma jeritan hati dari seorang pemuda berusia tanggung (tanggung udah ampir bangkot) yang merasa terusik dengan konflik-konflik yang dialami belakangan ini. Semua yang ada di sini murni merupakan pikiran gue sendiri, dan gue gak mewakili kelompok ataupun organisasi apapun, hanya permenungan gue sendiri. Semoga tulisan gue ini bisa jadi renungan buat semuanya, harapannya sih mengakhiri konflik, sukur-sukur bisa jadi harmonis… Hope so!

Agama adalah suatu sarana untuk lebih mengenal sang pencipta, untuk lebih mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Setiap agama menganggap ajarannya yang terbaik. Itu tidak salah, toh jangankan agama, partai politik aja menganggap partainya masing-masing adalah yang terbaik, sekecil apapun itu. Jadi, kalau urusannya sama kepercayaan yang anggotanya bukan cuma ratusan ribu tapi udah jutaan bahkan ratusan juta atau milyaran, kenapa itu tidak bisa terjadi?

Lalu gue berpikir, sebenernya agama itu untuk apa sih? Seakan-akan sekarang setiap agama berlomba untuk menarik jemaat atau pengikut, dilatar belakangi oleh tujuan mulia yakni ‘menyelamatkan’ orang yang akhirnya join ke agama mereka. Mungkin memang idealnya seperti itu, tapi sekarang malah terkesan jago-jagoan, lebih banyak orang lebih keren, lebih berpengaruh, lebih berkuasa, bisa ‘ngejek-ngejek’ yang minoritas, dan seterusnya. Minoritas di sini tergantung tempatnya, toh di tiap daerah juga ada yang mayoritas dan minoritas, dan itu selalu berbeda-beda.

Awal dan akhir, ujung dan pangkal dari agama itu kan sebenarnya seharusnya cuma satu: Tuhan. Jadi pertanyaan yang gue jadiin judul bisa gue angkat lagi di sini: Who is your God?
Pertanyaan yang menurut gue tidak pantas, amat sangat tidak pantas untuk ditanyakan. First of all, Tuhan itu maha segalanya. Gak ada satu kepercayaan ataupun agama manapun, yang mengingkari ini, CMIIW. Di kitab suci, tertulis bahwa Tuhan itu baik, pengasih, penyayang, pengampun, sabar, setia, dan lain-lain. Tuhan juga pernah murka, marah, kecewa. Jika Tuhan itu maha segalanya, maka di samping maha-baik dan maha-yang-baik-baik, Tuhan juga bisa jadi maha-pemarah, maha-pencemburu, dan maha-jahat! Tuhan adalah segalanya kan? Nah dari pemikiran seperti ini, gue menganggap, sebenernya Tuhan itu gak bisa didefinisikan se-sempit itu oleh kata-kata yang kita kenal selama ini, oleh bahasa dan logika yang kita miliki saat ini. Karena apabila seperti itu, kita akan kembali ke paradoks-paradoks seperti di atas.

Lalu apa gunanya kitab suci, apa gunanya membacanya, apa gunanya mendengarkannya ketika kita beribadat? Toh juga sebenarnya tidak merepresentasikan Tuhan seutuhnya! Di sini merupakan pentingnya agama. Agama asal katanya dari ‘a’ yang artinya tidak, dan ‘gama’ yang artinya kacau. Tujuan dari agama = tidak kacau balau. Dalam setiap agama ada kitab sucinya. Dalam kitab suci itu dituliskan bahwa yang Tuhan inginkan itu semua hal yang baik, semua hal yang teratur, semua hal yang harmonis. Agama difungsikan sebagai sarana, sekali lagi sarana, supaya kehidupan manusia ini harmonis, teratur, baik adanya. Agama seharusnya tidak punya kepentingan lain such as politik, moneter, apalagi banyak-banyakan pengikut. Konyol! Agama diharapkan bisa memagari manusia agar beraktifitas sesuai koridor-koridor yang ditentukan, yang diharapkan membawa harmoni dan kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Bicara tentang hal baik, gue pikir sekarang kata baik pun sudah bias. Baik buat gue bukan berarti baik buat semua orang kan? Baik menurut salah satu agama bukan berarti baik menurut agama lainnya. Bisa kita lihat konflik-konflik yang terjadi karena kepercayaan, yang paling besar tentu Israel-Palestina, meskipun menurut gue itu bukan lagi konflik kepercayaan tapi sudah jadi konflik nasional, politis, dan juga kepentingan moneter. Baik itu sendiri berasal dari Tuhan yang maha-baik, jadi baik itu sudah tentu bukan manusia yang mendefinisikannya. Baik seharusnya universal, bukan baik menurut Kristen, baik menurut Islam, baik menurut Buddha, dan seterusnya, bukan itu, bukan! Baik ya…. baik! Titik. Tidak ada perdebatan seharusnya. Kalau masih ada perdebatan baik menurut pihak satu tidak baik menurut pihak lain, berarti itu belum sepenuhnya baik. Belum merepresentasikan baik-nya Tuhan. Sekali lagi, Tuhan kan maha-segalanya. Baik yang berasal dari Tuhan seharusnya dalam segala aspek. Tidak ter-kotak-kotak seperti sekarang ini.

Jadi gue sekarang malah heran, karena agama manusia bisa saling tuduh, saling memaki, saling menghina. Karena agama, manusia bisa saling menyikut, memukul, bahkan saling bunuh. Oke, ajaran itu memang memagari manusia. Tapi pagar itu kan gunanya untuk supaya manusia gak kacau balau, terstruktur, dan harmonis. Harmonis di sini harmonis yang universal seperti Tuhan yang universal, bukan harmonis menurut agama tertentu, atau harmonis menurut kelompok tertentu, seperti yang udah gue kemukakan tadi. Jadi pagar ini menurut gue seharusnya adalah pagar yang fleksibel, selama hubungan dengan sesama bisa benar-benar harmonis, maka pagar itu berfungsi, bukan pagar yang kaku dan keras yang malah mengkotak-kotak-an manusia seperti sekarang ini.

Ada satu hal yang cukup aneh dan lucu sebenarnya dari manusia. Manusia itu ingin berbeda dari yang lain, tampil beda, unik. Padahal, seperti yang kita semua tau, setiap orang dilahirkan berbeda. Tidak ada satu orang pun di dunia yang sama ‘plek’ satu sama lainnya. Selalu ada perbedaan, dan itu membuat semua orang dilahirkan unik. Tanpa berusaha berlebihan pun, Tuhan sudah membuat kita unik adanya. Tinggal bagaimana kita menerima perbedaan itu semua menjadi semua harmoni yang mengagumkan. Yang lucu adalah, everyone wants to be different. Tapi begitu ada orang yang memilih sesuatu yang beda, selalu ada celaan. Orang yang memilih agama yang beda dari beberapa orang, dianggap dosa. Jadi sebenernya manusia itu maunya apa yah?

Gue beragama. Agama gue Katholik. Tapi gue ga beranggapan bahwa agama gue yang terbaik. Aneh? Menurut gue enggak, karena beragama bukan melulu fanatisme. Gue fanatik, tapi juga enggak buta. Iman gue? Gue menganggap agama tidak berhubungan langsung dengan iman. Iman itu personal, antara gue sama Tuhan. Agama hanyalah pendukung buat gue mengembangkan iman gue. Gue juga bukan orang yang terlalu religius. Beribadat seperti orang-orang Katholik lainnya yang setiap minggu ke gereja, kalo males juga ga ke gereja. Gue orang yang juga berdosa, sering berpikiran kotor, sering mengganggu orang lain, sering menyakiti orang lain baik sadar ataupun gak sadar. Jadi agama merupakan hal yang penting buat gue sebagai pengingat bahwa gue manusia pendosa yang gak bisa hidup sendiri. Gak bisa hidup sendiri. Oleh karena itu, gue harap agama bisa bawa harmoni buat kita semua. Bukan pembawa perpecahan.

Kembali lagi, who is your God? Pertanyaan ini seharusnya diakhiri di sini saja, karena udah tidak relevan sama sekali. Tuhan itu maha besar yang tidak dapat kita kotak-kotak-an dengan pikiran kita yang kecil. Agama manapun, kepercayaan manapun, tidak masalah Tuhannya disebut apa, dalam bentuk apa, dan menyebarkan agama apapun, yang penting kita tau bahwa kita itu bukan apa-apa di hadapan-Nya. Bahwa kita hanya bisa berharap akan diselamatkan. Bahwa kita hanya berharap kita bisa bahagia, bahwa kita hanya berharap dan berharap akan sesuatu yang baik yang kita percayai berasal dari-Nya. Sarananya? Agama. Jadi, beragama apapun kita, gue harap, harmoni dan kebaikan bisa terjadi di antara kita semua, tanpa sama sekali menyinggung kepercayaan dan tata-cara yang kita pegang dan kita anut dalam agama kita masing-masing. Isn’t that nice?

Have a great weekend, God bless us everyone.

Regards,
Xander™

Advertisements

One thought on “Who is your God?

  1. zerocross says:

    lama2 gw liat agama uda kayak brand jadinya , kalo agama A pasti begini , kalo agama B pasti begitu.ingin ini ingin itu banyak sekali -_-

    dan yg bikin gw penasaran tuh di apakah pernah di Kitab Suci agama manapun diajarin untuk membunuh sesama ? kalo ga pernah diajarin begitu, kenapa ada aja orang yg mengatas namakan agama untuk membunuh orang ? berarti tuh orang uda menciptakan agamanya sendiri donk?

    gw jg harus belajar lebih baik lagi biar bisa menjadi pemeluk agama yg taat nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s