Soccer for a better World


Belakangan ini, gue liat nasionalisme masyarakat Indonesia sekali lagi dibangkitkan, bukan oleh para pejabat, bukan oleh para tentara, bukan oleh para pegawai negeri dan juga oleh pengusaha, tapi oleh 11 orang (plus-plus) di lapangan hijau. Timnas Indonesia, alias Garuda. Mereka sanggup membangkitkan semangat nasionalisme kita secara cukup signifikan, contohnya saja, waktu mereka bertanding, jalanan di Jakarta sepi, karena kebanyakan orang nonton timnas lewat tv ataupun nonton bareng di tempat-tempat tertentu, selain tentunya yang rela antri berjam-jam dan berhari-hari buat dapet tiket nonton langsung di Gelora Bung Karno, Senayan. Sungguh rasanya keinget lagi akan masa-masa jaya perbulutangkisan Indonesia, waktu jaman Susi Susanti dan Alan Budikusuma menang medali emas Olympic di Barcelona dulu. Waktu itu, ampir setiap rumah nonton perjuangan atlet-atlet bulutangkis kita di tv. It feels great!

Tapi herannya, ada aja yang mengganggu suasana kondusif seperti ini. Ketika sepakbola mulai menggantikan bulutangkis sebagai olahraga yang paling digemari di negara kita, dan udah terbukti bisa menjadi alat pemersatu bangsa yang cukup efektif, ada saja yang masih mempermasalahkan simbol burung garuda yang disematkan di dada kaos timnas yang dikenakan tiap pemain. Alasannya konon adalah tidak hormat untuk menggunakan lambang kebesaran negara untuk kaos yang mungkin bisa sobek, ataupun kotor terkena tanah di lapangan. Oh God, bukankah lambang itu tujuannya pemersatu bangsa? Jadi ketika lambang itu akhirnya dapat menyumbangkan kegunaannya yang utama yakni pemersatu bangsa, kenapa dilarang?

Demikian juga dengan lembaga tertinggi pelindung sepakbola Indonesia, PSSI. Ketua PSSI sekarang adalah mantan narapidana. Itu sudah ditentang oleh banyak sekali orang di negara kita. Ketika timnas kita dipuji setinggi langit, menginspirasi semua orang di negeri kita ini, PSSI justru dicaci maki, ketuanya disuruh mundur. Dan apa yang diperbuat beliau? Tetap bertahan di posisinya. Dan ketika ada pengusaha-pengusaha yang mau membiayai suatu liga yang mandiri tanpa dibiayai pemerintah, LPI (Liga Primer Indonesia), PSSI malah menentang dan mengancam. Bukankah ada liga tandingan itu bagus? Masyarakat pun dapat memilih dan melihat sendiri, mana yang lebih bagus. Tidak usah takut liga-nya PSSI (ISL – Indonesian Super League) akan hancur, kalau memang peminatnya masih tetap banyak, maka liga itu akan tetap berjalan. Dan kekonyolan ini berlanjut. Pemain yang bermain di LPI tidak boleh memperkuat timnas Indonesia. Oh God, apa lagi ini, kebebasan dan kesempatan untuk kembali berjuang untuk negara malah dikekang oleh aparatur negara itu sendiri? Apa kata dunia???

Belakangan beredar kontroversi lagi, yakni tentang surat yang dilayangkan oleh FIFA – badan sepakbola dunia, untuk PSSI, yang isinya adalah mencekal LPI. Konon katanya, surat dari FIFA itu akal-akalan dari PSSI aja, alias surat itu palsu. Kontroversi itu dibahas di sini, terlepas dari benar atau tidaknya ya. Namun kalo itu benar terbukti palsu, yah mereka sendiri yang menanggung akibatnya. Toh LPI sendiri menyatakan tidak takut akan ancaman dari PSSI ataupun FIFA, karena mereka merasa mereka benar dan tidak melanggar aturan. Yah, setidaknya kita sebagai masyarakat juga sudah dewasa, bisa menilai mana yang bagus dan mana yang buruk.

Poin dari postingan gue kali ini adalah, ketika semangat dan kesempatan perubahan ke arah yang lebih baik itu ada, mengapa selalu ada yang menghalangi? Ini merupakan hal yang menggelitik pikiran gue. Hal ini bukan hanya terjadi dalam sepakbola aja, dalam hal ini adalah sepakbola sebagai pemersatu bangsa, ini cuma satu contoh yang belakangan ini mencuat. Hal ini sebenernya terjadi hampir di seluruh aspek kehidupan kita. Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik, mengapa tidak kita gunakan? Berarti sebenarnya ketika kesempatan itu datang, kita semua adalah manusia yang bebas. Bebas dalam arti kita bebas buat memilih, mau jadi apa kita? Mau jadi lebih baik? Mau jadi tetap seperti sekarang? Atau malah mau jadi lebih buruk? Terkadang kita juga terkekang oleh status dan kebanggaan diri yang berlebihan, seperti contohnya PSSI yang menurut gue terlalu bangga akan statusnya sebagai induk olahraga sepakbola se-Indonesia. Mengapa? Karena kita menjadi buta, menjadi egois, dan tidak melihat hal-hal lain yang baik, bahkan lebih baik, yang timbul dan menjadi pilihan kita. Tuhan memberikan kebebasan sebebas-bebasnya bagi kita untuk memilih, so we got to make a good choice, shouldn’t we?

Postingan gue kali ini sukur-sukur menjadi kritikan membangun buat PSSI (kalo postingan gue ini dibaca), dan juga sebagai cerminan buat diri gue sendiri, apakah gue juga udah berani membuka diri terhadap kesempatan-kesempatan yang muncul, terhadap masukan dan juga pilihan yang mungkin lebih baik dari yang ada sekarang ini. We are having our own comfort zone. Kalo kita ga berani melepaskan itu semua, maka kita akan jadi buta. Mudah-mudahan gue sendiri juga bisa seperti yang gue harapkan dari postingan kali ini, dan mudah-mudahan, dengan perubahan ke arah yang lebih baik dari masing-masing individu, we are going to make our world a better one. I hope.

Regards,
Xander™

Advertisements

One thought on “Soccer for a better World

  1. Moment di mana lagu Indonesia Raya dinyanyikan benar benar dengan sepenuh hati dan rasa bangga…
    Ngalahin saat upacara hari senin , bahkan saat sidang wakil rakyat…

    Trus bener2 bikin malu tuh kalo terbukti suratnya palsu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s